Lautan light stick
hijau menari ke kanan dan ke kiri dengan sangat kompak. Suara riuh rendah
ribuan penonton memadati JCC membuat semua manusia yang ikut serta dalam konser
akbar ini merinding. Apalagi ketika duo dari Jogja itu keluar dari balik tirai.
Semua berteriak histeris menyebut-nyebut nama mereka berdua. Termasuk aku yang
kini duduk di bangku VIP yang merasakan begitu kental atmosfer euphoria dari
segala penjuru entah itu dari tribun, festival atau VIP sendiri.
One
Two Three Four! Suara baritone yang super kece itu
menyapa semua penonton! Ya, pemilik suara emas itu adalah Cakka Nuraga! Petikan
gitar yang luar biasa bagus kemudian menyusulnya. Ya, yang tak kalah kami
tunggu-tunggu pula. Elang Nuraga! Aaaaaa! Rasanya aku ingin meleleh melihat
ketampanan mereka. Lupa Bawa Nyali sukses
menjadi menu pembuka yang menggigit malam
ini!
Hey
little baby..!
Kau
membuat nafas ini, lepas dan tak terkendali
Tak
bernyali!
Tolong
kembali, kembalikan nafas ini
Berikan
sedikit lagi harga diri.
Kami semua kompak
menyanyikan lagu itu. Apalagi dengan aransemen barunya yang lebih terkesan
fresh dan anak muda banget. Lagu-lagu berikutnya pula berhasil seratus persen
menghipnotis semua The Forester, fans The
Finest Tree.
Ketika sedang
bernyanyi, ia tak henti-hentinya menyedot perhatian. Ada saja tingkahnya yang
membuat kita semakin gemas. Ya, seperti ketika ia melempar botol minumannya
yang sudah kosong ke arah kami. Membuat kami semakin histeris. Lalu, ia dengan
tiba-tiba membuka bajunya dan melemparkan bajunya ke arah kami pula! Otomatis
kami berubah menjadi seperti pemangsa saat itu juga. Kami tidak peduli di
sebelah kami itu kawan atau lawan. Yang terpenting mendapatkan baju itu!
Sialnya aku tidak pernah mendapatkan barangnya sama sekali. Aku hanya
mendapatkan jambakan dan cakaran dari fans fanatiknya yang ternyata baru aku
sadari ada yang bule asli. Di impor langsung dari luar negeri. Oh My God!
Dan ketika sesi greeting tiba. Semua kembali berlomba
hingga saling sikut untuk bisa bertanya kepada Cakka dan Elang secara langsung.
Ada yang melambaikan tangan dengan sangat semangat. Ada pula yang
melompat-lompat sampai hampir terjatuh. Suasana di dalam ruangan benar-benar
memanas.
“Hai semuanya!” sapa Cakka.
Kami semua kompak
menjawab, “Hello!”
“Wah. Kalian luar
biasa! Super rawk!” tambahnya.
Ucapan Cakka tadi
dibalas dengan teriakan-teriakan histeris dari seluruh penjuru ruangan.
“Oke. Ada yang mau maju
ke panggung?” tanya Cakka seraya mengerlingkan mata.
“Mauuuuuu!” ucap kami
kembali dengan kekompakan yang lebih dahsyat.
“Haha. Mau semuanya
nih. Piye iki?” tanya Cakka
kebingungan.
“Gini aja,Kka. Biar
panitia nyalain light terus yang kesorot dia yang maju. Ya, ini si berarti
siapa beruntung dia dapat. Hehe.” Jelas Elang dengan bijak.
“Wah. Masku ini memang supadupakewl ya! Oke oke. Lightningman sudah siap?” tanya cakka
sambil mengarahkan pandangan kepadanya. Dibalas oleh si lightningman dengan acungan jempol.
Suara drum yang
menegangkan mengiringi perjalanan sorotan cahaya. Dari tadi cahaya itu selalu
lewat di depanku. Semoga aku yang mendapatkannya. Karena jantungku berpacu
lebih cepat dari biasanya aku hanya bisa
memejamkan mata dan berdoa pada Tuhan agar aku lah orang yang beruntung itu. Hingga
akhirnya aku seperti merasakan ada sesuatu yang menyilaukan dan disusul dengan
teriakan-teriakan. Dengan perlahan aku mencoba membuka mataku. Ya Tuhan! Apakah
aku tidak bermimpi? Terimakasih Tuhan! Terimakasih! Saking bahagianya tak
kusadari bahwa air mataku telah berubah menjadi air bah di pipiku.
“Yeah! Akhirnya kita
mendapatkan seorang yang beruntung itu. Mari kita sambut kedatangannya dengan
tepuk tangan yang meriah. Yang lain jangan iri ya. Suatu saat nanti di saat
yang tepat akan tiba giliranmu. So, keep
calm guys!,” ucap Cakka mencoba menghibur ribuan penonton lain yang kecewa.
Aku tak pernah lupa
untuk selalu menyunggingkan senyuman. Di dalam senyuman itu terdapat ribuan
rasa terimakasih kepada Tuhan. Air mataku juga belum kering. Ketika di perjalanan
menuju panggung aku begitu terkejut karena ada seseorang yang menarik tanganku
secara tiba-tiba. Aku mencoba melepaskan tanganku tapi tak bisa. Genggamannya
sebenarnya tidak terlalu kuat namun ada sesuatu ‘kekuatan’ yang menahanku dan
mengendalikanku pula. Di saat bersamaan pula. Suara-suara dari penonton yang
masih kecewa tiba-tiba ikut menghilang. Dan kucoba memberanikan diri untuk
menengok ke kanan dan ke kiri. Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Mereka semua diam
mematung! Lalu, aku menengok pula ke arah Cakka dan Elang. Ya Tuhan! Mereka
mematung pula.
“A-a-apakah? Kau bisa
menghentikan waktu?” sedikit memberanikan diri bertanya kepada seseorang tadi.
“Kau tak perlu tahu apa
yang sedang terjadi saat ini. Yang terpenting adalah kau adalah yang terpilih.”
ucapnya dengan senyuman. Semua kesan menyeramkan dan misterius darinya kini
lenyap. Ia yang pertama kali kulihat tertunduk dengan rambut panjang yang
menutupinya kini terlihat begitu menawan.
“Apa? Apa maksudmu? Aku
sama sekali tak mengerti.”
“Baik. Mungkin saat ini
kau sedang berada di sebuah kondisi antara ketakutan dan kebingungan. Maka,
akan kujelaskan. Aku adalah manusia biasa sama sepertimu. Namun, aku diberi
suatu ‘kelebihan’ oleh Tuhan. Guna kelebihan itu adalah untuk membantu orang
baik yang terpilih. Orang itu adalah Cakka. Karena aku tidak bisa seutuhnya
membantunya maka aku butuh perantara. Perantara itu adalah orang terpilih pula.
Orang itu adalah kau! Kau harus senantiasa ada untuknya setiap saat.” jelasnya
panjang lebar.
“Aku masih tak mengerti
dengan apa yang kau katakan.”
“Lambat laun pasti kau
akan mengerti. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah pejamkan mata dan
dengarkan semua apa kata hatimu. Mengerti?”
Perlahan kupejamkan
mata. Dan berusaha mendengarkan isi hatiku. Ketika aku berusaha sekeras mungkin
untuk mendengarkannya. Tiba-tiba saja ada ‘sesuatu’ seperti cahaya lembut yang
menerobos masuk ke dalam dadaku. Setelahnya, aku melihat potongan-potongan
kejadian yang sama sekali tidak teratur tentang kehidupan Cakka. Ya, benar.
Cakka.
Setelah itu, semua
kembali normal. Dan seseorang misterius tadi tiba-tiba menghilang. Dengan rasa
yang campur aduk, aku memberanikan diri untuk tetap melangkah ke atas panggung.
“Hai.” Sapa Cakka
dengan senyuman yang amat tulus.
“Ha-hallo.” Ucapku
terbata.
“Siapa namamu?” ucapnya
sambil mengulurkan tangan.
Kuterima tangannya,lalu
kubilang “Panggil saja aku Ra.”
Perbuatanku tadi
dibalas dengan teriakan-teriakan penuh ketidakterimaan.
“Oke Ra. Kau adalah
orang beruntung yang bisa bertanya apa saja tentangku dan mendapatkan hadiah
dari The Finest Tree. Monggo
bertanya.”
“Hmm. Ma-makasih,Kka
sebelumnya. Hmm…” butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan nyaliku untuk
menceritakan semua kejadian tadi. Aku takut kalau Cakka dan Elang akan mengira
bahwa aku ini gila.
“Dor! Kok malah
bengong? Speechless ya? Ayo tanya aja
sesukamu!”
“Hmm, apa kamu seratus
persen manusia?” ucapku ragu-ragu.
Ucapanku tadi berhasil
membuat seluruh isi ruangan tertawa terbahak-bahak.
Namun tidak dengan
Cakka. Wajahnya tampak serius sekali ketika akan menjawab pertanyaanku.
“Ekhem! Sebenarnya..
Sebenarnya aku ini keturunan… Dra-cu-la!”
Sesaat seluruh isi
ruangan mendadak sepi. Tiba-tiba.
“Hahahaha. Ra kamu
berhasil ngebuat semuanya di sini ketipu!”
Kemudian tawa renyahnya
itu disusul tawa ribuan penonton lain.
“Ta-tapi. Aku serius.
Tadi ada seseorang yang aneh. Orang itu tahu kamu. Aku kira dia saudaramu. Dia
juga bisa menghilang. Dan sebelum dia menghilang, dia juga bilang kalau kamu dan
The Finest Tree akan menjadi besar
namun akan ada sesuatu hal yang menggemparkan sebelumnya.”
Raut wajah Cakka kini
berubah menjadi bingung. Dia seperti menerka- nerka sesuatu. Hingga kemudian.
“Baik Ra, Semoga
ucapanmu tentang The Finest Tree yang akan jadi besar bisa menjadi kenyataan.
Tapi jangan dengan hal yang aneh ya. Hehe. Setuju nggak Forester?”
“Setuju!” jawab Forester seperti koor.
Kemudian Cakka menyuruhku
ke backstage dengan wajah yang masih diselimuti dengan kebingungan. Bukankah
seharusnya aku balik ke kursiku? Tapi kenapa aku disuruh ke backstage? Mana
hadiahku yang dijanjikannya tadi? Ah, tapi tak masalah bagiku. Momen di mana
aku bisa satu panggung dengan Cakka saja sudah menjadi hal luar biasa dalam
hidupku. Bahagia memang tidak selalu tercipta dari sesuatu yang berlebihan.
Bahagia itu ketika hati kita memang mau menerima semuanya dengan senang hati.
Sebentar! Mungkin dia ingin mencari tahu lebih jauh apa yang terjadi.
Dari kejauhan terlihat
sesosok pria dewasa datang mendekatiku. Ternyata beliau adalah Om Tunggul, Ayah
Cakka dan Elang. Beliau menyapaku dengan senyuman yang tulus.
“Halo,Cah Ayu. Aku
dengar sesuatu tadi di atas panggung. Apa tho
maksudmu itu?”
“Hi,Om,” ucapku sambil
menyalami beliau.
“Ceritanya panjang om.
Tadi, waktu aku lagi jalan ke arah panggung tiba-tiba aja ada seseorang yang
narik tangan aku. Dan anehnya dia narik aku dengan suatu kekuatan yang begitu
kuat dan mengendalikan. Setelahnya, aku benar-benar dibuat bingung setelah
semuanya seolah berhenti.”
“Jadi, maksudmu orang
itu bisa menghentikan waktu?” potong Om Tunggul.
“Iya sepertinya
begitu,Om. Tapi, ketika aku mencoba buat tanya dia itu sebenarnya siapa dia
cuma jawab kalau dia itu manusia biasa yang punya kelebihan dari Tuhan. Terus
yang makin bikin aku bingung itu dia ngomong soal manusia terpilih gitu,Om. Aku
juga belum mudeng tentang semua hal yang diomongin sama dia,”jelasku panjang
lebar.
Om Tunggul terlihat
menerawang. Beliau berpikir begitu keras. Kerut di dahinya menandakan bahwa
beliau setengah khawatir setengah penasaran.
“Oom, ngga usah
khawatir. Soalnya dia sempet bilang kalau Cakka bakalan jadi musisi besar
bersama Elang lewat The Finest Tree.
Tapi, dia juga bilang kalau sebelum Cakka menjadi besar bakalan ada suatu
peristiwa yang menggemparkan.”
Omonganku tadi berhasil
mengusir lamunan beliau. Namun, tak kusangka hal yang kukatakan tadi justeru
membuat beliau semakin cemas. Ya Tuhan bantu aku!
Di tengah kecemasan
kami itu. Tiba-tiba Cakka dan Elang menghampiri.
“Hallo,Ayah dan Ra.
Kayaknya lagi serius banget nih?” tanya Elang.
“Hmm. Ini anu. Aduh.
Itu..”
“Kamu kenapa Ra kayak
orang gagap gitu? Masih nggak nyangka bisa sedeket ini sama orang ganteng
tingkat jagat raya ini ya?” celoteh Cakka memecah atmosfer yang terkesan kaku.
“Haha. Bisa aja kamu
Kka. Berarti kamu paling ganteng di antara manusia dan alien-alien dong? Hahaha,” ledek Elang.
“Hush ngawur! Jangan
ngomongin itu ah. Jadi ngeri. Tadi aja kan ada yang aneh sama si Ra. Eh, iya
omong-omong, apa sih maksud omonganmu itu Ra? Penasaran aku ki,” tambah Cakka.
“Hmm. Aku juga masih
belum ngerti Kka sama apa yang diomongin orang misterius tadi. Aku takut Kka.
Takut. Tapi, yang jelas dia berpesan supaya aku ada di deket kamu terus buat
bantu kalau sewaktu-waktu ada apa-apa.”
“Idih! Merinding aku
iki!” ucap Elang sambil mengusap kedua lengannya.
“Ojo ngono tho,Lang. Aku jadi merinding juga nih!”
“Sudah-sudah. Mendingan
kita jangan ngomongin ini di sini ya kita ke cafĂ© aja,” usul om Tunggul.
“Setuju!” ucap Cakka
dan Elang dengan kompak.
“Eh, Ra ikut kan,Yah?”
tanya Cakka.
“Pasti dong,”jawab Om
Tunggul.
“Makasih banyak NRG
family. Hehe.”
Mereka kompak membalas
ucapan terimakasihku dengan senyuman maut mereka. Ah! Rasanya aku adalah orang
paling beruntung sejagat raya! Namun, ketika kami baru mau meninggalkan
backstage,tiba-tiba…
Soundsystem yang sedari
tadi sudah mulai dibereskan ternyata kembali tertata rapi di atas panggung.
Bahkan, terdengar suara gitar persis seperti Elang yang memainkan. Padahal
konser sudah usai. Siapakah pemain itu? Kami berempat akhirnya memutuskan
kembali melihat panggung.
Tak disangka, Forester yang masih berada di
sekitar gedung kembali ke dalam ruangan mengira bakal ada kejutan untuk mereka.
Dan apa yang mereka temukan?
Instrumen
music tanpa pemain! Karena mereka mendapati kami berempat
terdiam membisu di atas panggung! Lalu, terdengar pula sekali suara dentuman
yang begitu keras menghantam bumi. Sontak membuat semua forester berteriak
sangat kencang. Kemudian, panggung menjadi goyang. Jatuh beberapa lampu sorot.
Dan tidaaaak! Ada satu yang mengarah ke tubuh Cakka. Sontak aku pun berusaha
menghalau lampu itu dari Cakka. Tapi, Dewi Fortuna sedang tidak berada di pihak
Cakka. Lampu itu mengenai kakinya. Dan Cakka pun jatuh pingsan. Aku menyesal
kenapa kekuatanku tidak berfungsi? Ah ya! Mungkin orang misterius itu hanya
pembohong besar! Amarah di dalam dada dan pikiranku semakin memuncak. Aku pun
berteriak. Betapa terkejutnya aku, tak sengaja kuterbangkan beberapa barang
yang tergeletak tanpa menyentuhnya. Baru kusadari bahwa kekuatan itu memang ada.
Ada di diriku. Aku pun segera menyusul Cakka yang digendong keluar ruangan oleh
Om Tunggul. Aku berbisik di telinga Om Tunggul.
“Aku pinjam Cakka
dulu,Om.”
Kutarik Cakka dari
gendongan Om Tunggul. Kemudian.
Menghilang.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar