Kuliah Sastra Mau Jadi Apa?
Salam budaya!
If
you ever read my writing with the same title, you will know the whole content.
But here, I decide to rewrite several points because at that moment this
writing attract pros and cons. Then, I ended up to be verbally bullied by
several BOYS at that time. Jadi, aku akan menulis ulang dengan versi yang ‘tidak
menyudutkan’ pihak tertentu.
So,
buat kalian new readers mungkin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan
tulisan saya sehingga menimbulkan cukup kontroversi di antara mahasiswa FIB
khususnya mereka para penggerak kampus. Jadi, waktu itu, ada seseorang mahasiwa
yang mengkritik pihak kampus karena suatu hal dan kemudian saya mencoba merespons
tulisan tersebut. Respon saya murni karena satu kalimat yang menurut saya
memberikan kesan bahwa anak-anak sastra kurang punya prospektif yang bagus di
dunia karier. Namun, mungkin karena keteledoran saya saat itu yang juga
menyinggung tentang hal lain dari tulisannya itu, kemudian muncullah beberapa
teman-teman si penulis yang menganggap saya mahasiswi apatis yang tidak peduli
untuk mengkritisi birokrat dan “HANYA PAMER PRESTASI” melalui tulisan saya.
Mereka menganggap saya sebagai mahasiswi bodoh yang Cuma doyan pamer. Hehe To
be honest, you guys are more brave than me. YOU GUYS ARE MORE GREAT THAN ME.
Yups, I am just stupid little girl who would like to whisper to entire faculty
that we could support the faculty in many ways. One of the ways is like mine.
With achievements. With exploring ourselves more. Perlu digaris bawahi bahwa
saya tidak pernah berkata bahwa saya tidak suka dengan hal-hal berbau demo dan
mengkritisi birokrat, saya justeru mengacungi jempol karena keberanian dan kepedulian
mereka terhadap almamater mereka. Saya sangat menghargai itu. TAPI. Dapatkah
mereka memberi masukan, nasihat dan kritik dengan kalimat yang santun? Jujur
saja saya merasa tertekan dengan komentar-komentar dengan nada mengejek
tersebut. Entahlah, entah apa tujuan mereka pada saat itu. But, sadly, I consider it as
verbal bullying. I was hurt back then. That’s why I didn’t reply all of the
comments. Di sini kita harus benar-benar aware dengan kata-kata kita. Terkadang
ucapan atau kata-kata kita di media sosial yang menurut kita merupakan sebuah
kritikan atau hanya bahan candaan semata belum tentu seseorang yang diberi
perlakuan seperti itu menganggapnya biasa saja. Moreover, I was totally shocked
when there was a famous influencer a.k.a
leader in campus commented in my writing in such “rude” way. I was totally sad
at that time. So, dear brother, could you please give comments or criticism in
a good manner? In a polite way? To build and remind the persons not to mock
them. BE AWARE: VERBAL BULLYING IS REAL. Please pay attention on your words cos
we never know someone will be hurt or not :’)
Ah,
sudah. Intinya, aku sudah memaafkan hal itu. Then, this stupid little girl also
would like to deliver deep apologize if in my writing, I also ever hurt them,
my fellow brother. So, this is it new revision of Kuliah Sastra Mau Jadi Apa. Jadi,
perlu digaris bawahi juga, kalau tulisanku kali ini bukan lagi merespons
tulisan seseorang itu tetapi semata-mata sebagai informasi dan motivasi bagi
mereka yang berkuliah di jurusan yang masih terbilang under rated dan sering
diremehkan banyak orang.
Happy
reading guys! Hopefully you guys could get something from here ^^
KULIAH SASTRA MAU JADI
APA?
Bagi
kalian yang berada di jurusan sastra, pertanyaan seperti itu sudah sangat
familiar di telinga kalian,bukan? Tetangga kita,orang tua sampai our number one
support system sometimes ask the same questions repeatedly. Yups bukan hanya
pertanyaan tersebut yang sering mondar-mandir di telinga kita. Bahkan, kita
sendiri yang memilih atau terpaksa bergulat dengan jurusan ini, pasti pernah
merasakan hal yang sama dan sedikit merasakan kekhawatiran akan masa depan
karier kita. But hey, hal itu mungkin sudah tidak terlalu dipikirkan oleh
mahasiswa dan mahasiswi jurusan sastra yang sudah merasakan bahagianya kuliah
di jurusan sastra dan tidak lagi khawatir akan masa depan mereka. Lantas,
bagaimana dengan para mahasiswa baru yang masih butuh bimbingan dan contoh yang
nyata? Pertanyaan itu masih dapat mengusik pikiran mereka.
Ketika ada orang yang
bertanya, “KULIAH SASTRA MAU JADI APA?”
Stay
cool, sweetheart! Allah always gives the way! There is nothing imposibble if We
be with Allah J
Dear
fellow friend,
Seperti
yang sudah aku sebutkan di atas sampai harus aku capslock karena saking gemas
dan sedihnya. Kalau aku yang ditanya seperti itu, aku akan dengan mantabbb dan
bangga menjawab: “BANYAK”. Karena aku sendiri sebagai mahasiswa sastra itu
dengan senang hati tanpa paksaan apapun masuk sastra karena aku tahu jurusan
aku ini layaknya jalan yang menghubungkan kehidupanku saat ini dengan semua mimpiku.
Buktinya saja, selama aku berada di jurusan ini, aku merasa bahagia karena ada
banyak sekali hal yang berguna yang saya dapatkan mulai dari bagaimana menjadi
orang yang lebih peduli kepada teman-teman, dosen-dosen hebat yang selalu
memotivasi dan memberikan pencerahan tentang “My future job” serta bagaimana melihat suatu fenomena tidak hanya
dari satu sisi saja, namun melihatnya dari sudut pandang lain, yang menurut aku
hal itu yang menjadikan kami mahasiswa sastra bisa lebih bijak dalam menanggapi
suatu hal.
Then, I actually don’t want to show
what I’ve reached so far in my beloved major. Takut
ada yang bilang, “Ah baru segitu aja udah jumawa”. Oh sweetheart, I don’t care anymore. If you don’t like me and my
writing, IT’S ABSOLUTELY YOUR PROBLEM NOT MINE <3 Di sini, demi
adik-adikku tercinta yang baru akan memulai dunia kampusnya dengan bingung,
saya akan berbagi pengalaman yang sudah aku dapatkan selama berkuliah di
jurusan sastra ini. And, to avoid the same perspective that say I just inform
the world my achievements, so here I also will give several Role Model of mine
who really inspire me as well as PROVES study literature doesn’t mean your world
ended up quickly. ^^
Dearest brother and sister,
Don’t feel that you are alone and
lost. Karena kakak-kakak senior dan dosenmu akan dengan
senang hati memotivasimu agar mimpi-mimpimu itu akan mekar dengan indah di masa
depan. Kalian masih saja bingung, di hari esok akan menjadi apa? Don’t worry, sweetheart. Ada banyak
sekali kakak-kakak senior kalian yang sudah lulus bekerja di berbagai bidang
dan instansi. Kerja di Bank? Bisa. Kerja di Kemenlu? Jelas bisa. Jadi dosen
kece? Jangan ditanya. Jadi translator tingkat internasional dengan fee perkata? Uh itu sih yes. Jadi staff
Kepresidenan? Bisa banget. J Jadi, apa yang masih membuatmu bingung
adik-adikku? Satu yang pasti, agar mimpi itu bisa kau capai. Terus istiqomah,
lakukan semuanya dengan sepenuh hati dan terus ukir prestasi untuk dirimu,
keluargamu, jurusanmu, almamatermu dan tanah airmu :)
Untuk
lebih meyakinkanmu lagi, saya akan berbagi pengalaman saya selama saya menjadi
mahasiswi jurusan sastra. Jika kalian mau terus belajar dan berprestasi, maka
tawaran pekerjaan itulah yang akan datang kepada kalian sebelum kalian lulus.
Contohnya? Saya yang notabene mahasiswa biasa-biasa ini saja beberapa kali
Alhamdulillah diberikan kesempatan dan rezeki oleh Allah untuk menjadi
translator, coach, dan instructor. Coba bayangkan jika saya mahasiswa
biasa-biasa ini saja bisa, bagaimana kalian yang penuh potensi? Bisa
dibayangkan? Hehe Kalian bisa lebih keren dari senior-senior kalian :)
Bahkan, ketika banyak orang meremehkan saya karena “hanya bermodal bahasa
inggris” saja katanya, alhamdulillah karena hal itu pula saya sudah pernah
menginjakkan kaki di negeri orang untuk mengikuti pertukaran pelajar. Bagaimana
dengan kalian? Insya Allah ada banyak kejutan yang Allah akan berikan pada
kalian jika kalian serius terhadap apa yang kalian jalani, saling memotivasi
satu sama lain, mengukir prestasi dan melukiskan senyuman bangga di wajah orang
tua, bangsa dan negara kalian. Terlepas dari pekerjaan apa yang dapat kalian
dapatkan, di atas semuanya kalian akan mendapatkan hal luar biasa lain menjadi
anak sastra yaitu kelembutan hati, kesabaran dan proses yang menyenangkan untuk
mendewasakan diri kalian dan menjadi berguna bagi lingkungan kalian.
Now,
it is time to tell about my role models. All of them I call as “superwoman” in
their own unique way. Sosok wanita hebat pertama yang kuliah di jurusan yang
sama dengan saya adalah Kak Nanda atau saya biasa memanggilnya Kak Nandut
sebagai sapaan akrab. Kalian tahu, berkat dia lah saya pernah menginjakkan kaki
di negerinya si Mario Maurer yang super ganteng itu loh. Thankies sistahkuuu.
Dia ini super duper ribuan kali lebih keren dariku. She is a best president
ever who teaches me how to a good leader eventhough I am failed L
He teaches me everything, to inspire me to empower my self and other women. Dia
itu gudangnya prestasi deh, sweetheart. Dia pernah magang di beberapa contoh seperti
IRO(International Relation Office) Unsoed sampai sekarang dia lagi magang di
Kemenlu. Uuuh keren banget ya. Ada ratusan list prestasi yang nggak bakal cukup
aku jabarin di sini. But the point is her determination, her willingness to
develop herself, and empower her environment bring her to the brighter future. Love
yaa Kak Nandut, my role model, inspiration and idol. Doakan aku bisa sepertimu
yaa. :’)
The
second girl who glitter and shine brightly on my eyes is Ria Ricis’ Twin. If
you are FIB student. You will surely know her. Yups, this girl who looks a like
Ria Ricis is kak Tya, the one I call as “cabe” sebagai panggilan kesayangan.
But, she is special cabe of course. Bukan cabe-cabean di jalanan loh ya :p
Jadi, dari pertama masuk kuliah dan kebetulan satu organisasi sama dia. Aku
udah suka banget sama the way she speaks. Sounds like native banget gitu. Hehe saat
itulah aku jadi ngefans dan bertekad untuk bisa ngomong selancar dan sekeren
kak Tya. Dia juga udah banyak menginspirasi dari kepiawaian dia public speaking
loh. Dia bener-bener contoh nyata dari sebuah “niat” untuk belajar bahasa
inggris dengan benar dan ikhlas. Kemampuan public speakingnya jangan diragukan
lagi deh pokoknya. TOP BEGETE hihi Love yaa too my role model, inspiration and
idol.
Then,
the other girl that I really cherish, adore and appreciate also shine bright
like her name, Mentari. I call her bebeb sebagai panggilan sayang juga. Sebagai
tanda I adore her so much hihi. Jadi, dia ini keren banget bahasa inggrisnya.
Mahasiswi paling pinter se Sasing 2014 dengan IPK cumlaude dong pastinya. Nggak
usah ditanya deh hehe She is really beautiful outside and inside. Dia dulunya
PH di HMSI, guys. Pernah juga jadi Project Officer di Seminar Trilitra di
kampus. Kalau lagi ngomong pake Bahasa inggris dan diskusi di kelas, aku suka
melongo sendiri, saking kerennya hihi. Selalu mengingatkan dan menginsipirasi
ya beb. Laff . yaaa.
Nah,
role model berikutnya tidak terlalu dekat denganku. Tapi, mereka begitu baik
sampai benar-benar mensupport aku untuk terus berkembang. I do respect both of
these women. They are Kak Dwi Riati dan Kak Lia Agustina.
Kak
Dwi Riati merupakan wisudawati dari Sastra Inggris yang lulus dengan cepat. Dia
juga pernah menerbitkan sebuah novel yang keren. Selain itu, dia pernah menjadi
editor untuk sebuah penerbit. Sekarang, dia sudah bekerja di Medan tepatnya di
Kemenkemhum. Sesuatu yang membuat aku mengagumi dan menghormatinya adalah
kebaikannya untuk membantuku mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis. Walaupun
kami tidak begitu dekat, tanpa pikir panjang, ketika dimintai bantuan, dia
dengan senang hati menjawab iya. That’s the real example that senior will
always support their junior. Semoga suatu hari nanti kita bisa makin dekat ya
kak, Jangan berhenti untuk menginspirasi dan menyebarkan kebaikan. Love you,
kak.
Then,
finally we come to this wonderful girl. Back then, aku kenal kak Lia ketika
dulu aku pernah satu ukm dengannya, pada saat itu, aku juga sudah mengagumi the
way she speaks dan semua kebaikannya. Namun, karena suatu hal aku berhenti dari
ukm itu dan tidak bisa menjadi dekat dengannya. Jadi, aku hanya bisa
mendapatkan inspirasi dari jauh. Dia pernah pula menjadi PH di HMSI. Dia juga jago debat loh :’)
nggak kayak aku yang abal-abal huehue. Kemudian, dia juga sudah pernah mencicipi
magang di Kemensetneg. Duh, elegan banget ya. Terus, aku juga mau
berterimakasih banyak pake banget, berkat rekomendasi kak Lia, insya Allah
objek skripsiku bisa fix walaupun banyak banget rintangannya. Terimakasih pula
udah sabar jawabin pertanyaan Rahay soal skripsi atau magang ya. Hehe Thanks a
lot kak. Love yaa. Stay inspiring yaa!
So, the conclusion is that mari
kita belajar untuk memberikan masukan dengan santun dan membangun bukan dengan ‘nyinyiran’.
Be aware, verbal or cyber bullying is real. Di sini kita perlu saling
mengingatkan dan membangun bukan menjatuhkan dan mengolok-olok, belajar untuk
tidak meremehkan orang lain, ukir prestasi bersama dan sebarkan virus inspirasi
demi Indonesia yang lebih baik dan cemerlang J
Constellation
of love,
Mahasiswi
jurusan sastra yang sama sekali tidak bingung mau jadi apa dan bahagia kuliah
di jurusan sastra. <3 <3 <3
PS: ALERT! TULISAN INI
MEMANG MENGANDUNG UNSUR CURHAT, JADI YANG MAU KOMEN “LAH KOK MALAH CURHAT’
SEBAIKNYA DIUCAPKAN PADA ANGIN SAJA. TERIMAKASIH. INGAT! INI BLOG PRIBADI SAYA
PULA, JADI SAYA BEBAS MENUANGKAN SEMUA GAGASAN ATAU PERASAAN SAYA DI SINI.
JANGAN SALAH LAPAK! TERIMAKASIH ^^
#LETS SPREAD KINDNESS
AND LOVE NOT NYINYIR NYINYIR CLUB