Jumat, 27 April 2018

Sajak Pengusir Patah Hati



Hai jiwa-jiwa yang kuat
Aku tidak melarangmu untuk menangis
Tidak!
Sama sekali tidak
Tangisan bukanlah tanda ketidakberdayaan
Tangisan membawa pergi sedikit luka  
Tapi, janganlah kamu terus tenggelam dalam sungai kepedihan itu
Sudah saatnya kamu muncul ke permukaan dan berjalan ketepian
Lantas bergegaslah
Buanglah semua kotak memori dan patah hati di balik pintu kamarmu
Meski aku tahu itu amat berat
Meski dengan tertatih
Terseok seok tanpa sesiapa
Sekarang, saatnya kamu menyadari bahwa kamu terlalu berharga
Terlalu berharga untuk terus terjebak dalam badai patah hati
Karena kamu begitu berharga
Sambutlah musim yang baru bersama orang-orang yang mencintaimu
Musim semi yang membawa benih harapan baru
Tumbuhlah bersamanya
Bersama-sama mekar menjadi dirimu yang baru
Dirimu yang cantik dan lebih berharga dari sebelumnya  
Percayalah padaku, kamu tidak ditakdirkan untuk menjadi pecundang
Tetapi sebagai pemenang yang akan berlabuh pada hati yang tepat


Constellation of love,

Rahayours



Selasa, 24 April 2018

Kuliah Sastra Mau Jadi Apa? (New Version)


Kuliah Sastra Mau Jadi Apa?

Salam budaya!
 
If you ever read my writing with the same title, you will know the whole content. But here, I decide to rewrite several points because at that moment this writing attract pros and cons. Then, I ended up to be verbally bullied by several BOYS at that time. Jadi, aku akan menulis ulang dengan versi yang ‘tidak menyudutkan’ pihak tertentu.
So, buat kalian new readers mungkin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan tulisan saya sehingga menimbulkan cukup kontroversi di antara mahasiswa FIB khususnya mereka para penggerak kampus. Jadi, waktu itu, ada seseorang mahasiwa yang mengkritik pihak kampus karena suatu hal dan kemudian saya mencoba merespons tulisan tersebut. Respon saya murni karena satu kalimat yang menurut saya memberikan kesan bahwa anak-anak sastra kurang punya prospektif yang bagus di dunia karier. Namun, mungkin karena keteledoran saya saat itu yang juga menyinggung tentang hal lain dari tulisannya itu, kemudian muncullah beberapa teman-teman si penulis yang menganggap saya mahasiswi apatis yang tidak peduli untuk mengkritisi birokrat dan “HANYA PAMER PRESTASI” melalui tulisan saya. Mereka menganggap saya sebagai mahasiswi bodoh yang Cuma doyan pamer. Hehe To be honest, you guys are more brave than me. YOU GUYS ARE MORE GREAT THAN ME. Yups, I am just stupid little girl who would like to whisper to entire faculty that we could support the faculty in many ways. One of the ways is like mine. With achievements. With exploring ourselves more. Perlu digaris bawahi bahwa saya tidak pernah berkata bahwa saya tidak suka dengan hal-hal berbau demo dan mengkritisi birokrat, saya justeru mengacungi jempol karena keberanian dan kepedulian mereka terhadap almamater mereka. Saya sangat menghargai itu. TAPI. Dapatkah mereka memberi masukan, nasihat dan kritik dengan kalimat yang santun? Jujur saja saya merasa tertekan dengan komentar-komentar dengan nada mengejek tersebut. Entahlah, entah apa tujuan mereka  pada saat itu. But, sadly, I consider it as verbal bullying. I was hurt back then. That’s why I didn’t reply all of the comments. Di sini kita harus benar-benar aware dengan kata-kata kita. Terkadang ucapan atau kata-kata kita di media sosial yang menurut kita merupakan sebuah kritikan atau hanya bahan candaan semata belum tentu seseorang yang diberi perlakuan seperti itu menganggapnya biasa saja. Moreover, I was totally shocked when there was a famous  influencer a.k.a leader in campus commented in my writing in such “rude” way. I was totally sad at that time. So, dear brother, could you please give comments or criticism in a good manner? In a polite way? To build and remind the persons not to mock them. BE AWARE: VERBAL BULLYING IS REAL. Please pay attention on your words cos we never know someone will be hurt or not :’)
Ah, sudah. Intinya, aku sudah memaafkan hal itu. Then, this stupid little girl also would like to deliver deep apologize if in my writing, I also ever hurt them, my fellow brother. So, this is it new revision of Kuliah Sastra Mau Jadi Apa. Jadi, perlu digaris bawahi juga, kalau tulisanku kali ini bukan lagi merespons tulisan seseorang itu tetapi semata-mata sebagai informasi dan motivasi bagi mereka yang berkuliah di jurusan yang masih terbilang under rated dan sering diremehkan banyak orang.
Happy reading guys! Hopefully you guys could get something from here ^^
KULIAH SASTRA MAU JADI APA?
Bagi kalian yang berada di jurusan sastra, pertanyaan seperti itu sudah sangat familiar di telinga kalian,bukan? Tetangga kita,orang tua sampai our number one support system sometimes ask the same questions repeatedly. Yups bukan hanya pertanyaan tersebut yang sering mondar-mandir di telinga kita. Bahkan, kita sendiri yang memilih atau terpaksa bergulat dengan jurusan ini, pasti pernah merasakan hal yang sama dan sedikit merasakan kekhawatiran akan masa depan karier kita. But hey, hal itu mungkin sudah tidak terlalu dipikirkan oleh mahasiswa dan mahasiswi jurusan sastra yang sudah merasakan bahagianya kuliah di jurusan sastra dan tidak lagi khawatir akan masa depan mereka. Lantas, bagaimana dengan para mahasiswa baru yang masih butuh bimbingan dan contoh yang nyata? Pertanyaan itu masih dapat mengusik pikiran mereka.
Ketika ada orang yang bertanya, “KULIAH SASTRA MAU JADI APA?”
Stay cool, sweetheart! Allah always gives the way! There is nothing imposibble if We be with Allah J



Dear fellow friend,
Seperti yang sudah aku sebutkan di atas sampai harus aku capslock karena saking gemas dan sedihnya. Kalau aku yang ditanya seperti itu, aku akan dengan mantabbb dan bangga menjawab: “BANYAK”. Karena aku sendiri sebagai mahasiswa sastra itu dengan senang hati tanpa paksaan apapun masuk sastra karena aku tahu jurusan aku ini layaknya jalan yang menghubungkan kehidupanku saat ini dengan semua mimpiku. Buktinya saja, selama aku berada di jurusan ini, aku merasa bahagia karena ada banyak sekali hal yang berguna yang saya dapatkan mulai dari bagaimana menjadi orang yang lebih peduli kepada teman-teman, dosen-dosen hebat yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan tentang “My future job” serta bagaimana melihat suatu fenomena tidak hanya dari satu sisi saja, namun melihatnya dari sudut pandang lain, yang menurut aku hal itu yang menjadikan kami mahasiswa sastra bisa lebih bijak dalam menanggapi suatu hal.  
Then, I actually don’t want to show what I’ve reached so far in my beloved major. Takut ada yang bilang, “Ah baru segitu aja udah jumawa”. Oh sweetheart, I don’t care anymore. If you don’t like me and my writing, IT’S ABSOLUTELY YOUR PROBLEM NOT MINE <3 Di sini, demi adik-adikku tercinta yang baru akan memulai dunia kampusnya dengan bingung, saya akan berbagi pengalaman yang sudah aku dapatkan selama berkuliah di jurusan sastra ini. And, to avoid the same perspective that say I just inform the world my achievements, so here I also will give several Role Model of mine who really inspire me as well as PROVES study literature doesn’t mean your world ended up quickly. ^^

Dearest brother and sister,
Don’t feel that you are alone and lost. Karena kakak-kakak senior dan dosenmu akan dengan senang hati memotivasimu agar mimpi-mimpimu itu akan mekar dengan indah di masa depan. Kalian masih saja bingung, di hari esok akan menjadi apa? Don’t worry, sweetheart. Ada banyak sekali kakak-kakak senior kalian yang sudah lulus bekerja di berbagai bidang dan instansi. Kerja di Bank? Bisa. Kerja di Kemenlu? Jelas bisa. Jadi dosen kece? Jangan ditanya. Jadi translator tingkat internasional dengan fee perkata? Uh itu sih yes. Jadi staff Kepresidenan? Bisa banget. J Jadi, apa yang masih membuatmu bingung adik-adikku? Satu yang pasti, agar mimpi itu bisa kau capai. Terus istiqomah, lakukan semuanya dengan sepenuh hati dan terus ukir prestasi untuk dirimu, keluargamu, jurusanmu, almamatermu dan tanah airmu :)
Untuk lebih meyakinkanmu lagi, saya akan berbagi pengalaman saya selama saya menjadi mahasiswi jurusan sastra. Jika kalian mau terus belajar dan berprestasi, maka tawaran pekerjaan itulah yang akan datang kepada kalian sebelum kalian lulus. Contohnya? Saya yang notabene mahasiswa biasa-biasa ini saja beberapa kali Alhamdulillah diberikan kesempatan dan rezeki oleh Allah untuk menjadi translator, coach, dan instructor. Coba bayangkan jika saya mahasiswa biasa-biasa ini saja bisa, bagaimana kalian yang penuh potensi? Bisa dibayangkan? Hehe Kalian bisa lebih keren dari senior-senior kalian :) Bahkan, ketika banyak orang meremehkan saya karena “hanya bermodal bahasa inggris” saja katanya, alhamdulillah karena hal itu pula saya sudah pernah menginjakkan kaki di negeri orang untuk mengikuti pertukaran pelajar. Bagaimana dengan kalian? Insya Allah ada banyak kejutan yang Allah akan berikan pada kalian jika kalian serius terhadap apa yang kalian jalani, saling memotivasi satu sama lain, mengukir prestasi dan melukiskan senyuman bangga di wajah orang tua, bangsa dan negara kalian. Terlepas dari pekerjaan apa yang dapat kalian dapatkan, di atas semuanya kalian akan mendapatkan hal luar biasa lain menjadi anak sastra yaitu kelembutan hati, kesabaran dan proses yang menyenangkan untuk mendewasakan diri kalian dan menjadi berguna bagi lingkungan kalian.
Now, it is time to tell about my role models. All of them I call as “superwoman” in their own unique way. Sosok wanita hebat pertama yang kuliah di jurusan yang sama dengan saya adalah Kak Nanda atau saya biasa memanggilnya Kak Nandut sebagai sapaan akrab. Kalian tahu, berkat dia lah saya pernah menginjakkan kaki di negerinya si Mario Maurer yang super ganteng itu loh. Thankies sistahkuuu. Dia ini super duper ribuan kali lebih keren dariku. She is a best president ever who teaches me how to a good leader eventhough I am failed L He teaches me everything, to inspire me to empower my self and other women. Dia itu gudangnya prestasi deh, sweetheart. Dia pernah  magang di beberapa contoh seperti IRO(International Relation Office) Unsoed sampai sekarang dia lagi magang di Kemenlu. Uuuh keren banget ya. Ada ratusan list prestasi yang nggak bakal cukup aku jabarin di sini. But the point is her determination, her willingness to develop herself, and empower her environment bring her to the brighter future. Love yaa Kak Nandut, my role model, inspiration and idol. Doakan aku bisa sepertimu yaa. :’)
The second girl who glitter and shine brightly on my eyes is Ria Ricis’ Twin. If you are FIB student. You will surely know her. Yups, this girl who looks a like Ria Ricis is kak Tya, the one I call as “cabe” sebagai panggilan kesayangan. But, she is special cabe of course. Bukan cabe-cabean di jalanan loh ya :p Jadi, dari pertama masuk kuliah dan kebetulan satu organisasi sama dia. Aku udah suka banget sama the way she speaks. Sounds like native banget gitu. Hehe saat itulah aku jadi ngefans dan bertekad untuk bisa ngomong selancar dan sekeren kak Tya. Dia juga udah banyak menginspirasi dari kepiawaian dia public speaking loh. Dia bener-bener contoh nyata dari sebuah “niat” untuk belajar bahasa inggris dengan benar dan ikhlas. Kemampuan public speakingnya jangan diragukan lagi deh pokoknya. TOP BEGETE hihi Love yaa too my role model, inspiration and idol.
Then, the other girl that I really cherish, adore and appreciate also shine bright like her name, Mentari. I call her bebeb sebagai panggilan sayang juga. Sebagai tanda I adore her so much hihi. Jadi, dia ini keren banget bahasa inggrisnya. Mahasiswi paling pinter se Sasing 2014 dengan IPK cumlaude dong pastinya. Nggak usah ditanya deh hehe She is really beautiful outside and inside. Dia dulunya PH di HMSI, guys. Pernah juga jadi Project Officer di Seminar Trilitra di kampus. Kalau lagi ngomong pake Bahasa inggris dan diskusi di kelas, aku suka melongo sendiri, saking kerennya hihi. Selalu mengingatkan dan menginsipirasi ya beb. Laff . yaaa.
Nah, role model berikutnya tidak terlalu dekat denganku. Tapi, mereka begitu baik sampai benar-benar mensupport aku untuk terus berkembang. I do respect both of these women. They are Kak Dwi Riati dan Kak Lia Agustina.
Kak Dwi Riati merupakan wisudawati dari Sastra Inggris yang lulus dengan cepat. Dia juga pernah menerbitkan sebuah novel yang keren. Selain itu, dia pernah menjadi editor untuk sebuah penerbit. Sekarang, dia sudah bekerja di Medan tepatnya di Kemenkemhum. Sesuatu yang membuat aku mengagumi dan menghormatinya adalah kebaikannya untuk membantuku mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis. Walaupun kami tidak begitu dekat, tanpa pikir panjang, ketika dimintai bantuan, dia dengan senang hati menjawab iya. That’s the real example that senior will always support their junior. Semoga suatu hari nanti kita bisa makin dekat ya kak, Jangan berhenti untuk menginspirasi dan menyebarkan kebaikan. Love you, kak.
Then, finally we come to this wonderful girl. Back then, aku kenal kak Lia ketika dulu aku pernah satu ukm dengannya, pada saat itu, aku juga sudah mengagumi the way she speaks dan semua kebaikannya. Namun, karena suatu hal aku berhenti dari ukm itu dan tidak bisa menjadi dekat dengannya. Jadi, aku hanya bisa mendapatkan inspirasi dari jauh. Dia pernah pula  menjadi PH di HMSI. Dia juga jago debat loh :’) nggak kayak aku yang abal-abal huehue. Kemudian, dia juga sudah pernah mencicipi magang di Kemensetneg. Duh, elegan banget ya. Terus, aku juga mau berterimakasih banyak pake banget, berkat rekomendasi kak Lia, insya Allah objek skripsiku bisa fix walaupun banyak banget rintangannya. Terimakasih pula udah sabar jawabin pertanyaan Rahay soal skripsi atau magang ya. Hehe Thanks a lot kak. Love yaa. Stay inspiring yaa!
So, the conclusion is that mari kita belajar untuk memberikan masukan dengan santun dan membangun bukan dengan ‘nyinyiran’. Be aware, verbal or cyber bullying is real. Di sini kita perlu saling mengingatkan dan membangun bukan menjatuhkan dan mengolok-olok, belajar untuk tidak meremehkan orang lain, ukir prestasi bersama dan sebarkan virus inspirasi demi Indonesia yang lebih baik dan cemerlang J
Constellation of love,
Mahasiswi jurusan sastra yang sama sekali tidak bingung mau jadi apa dan bahagia kuliah di jurusan sastra. <3 <3 <3

PS: ALERT! TULISAN INI MEMANG MENGANDUNG UNSUR CURHAT, JADI YANG MAU KOMEN “LAH KOK MALAH CURHAT’ SEBAIKNYA DIUCAPKAN PADA ANGIN SAJA. TERIMAKASIH. INGAT! INI BLOG PRIBADI SAYA PULA, JADI SAYA BEBAS MENUANGKAN SEMUA GAGASAN ATAU PERASAAN SAYA DI SINI. JANGAN SALAH LAPAK! TERIMAKASIH ^^
#LETS SPREAD KINDNESS AND LOVE NOT NYINYIR NYINYIR CLUB


Senin, 23 April 2018

Menjadi Jelita Seutuhnya (Part 2 )





Assalamu’alaikum wr.wb.
Dear shalihah cantik,
Apa kabar nih?
Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya. Hallo Hallo. Rahay is back. Seperti yang sudah Rahay janjikan, kalau bakalan ada part 2 dan part 3 dari “Menjadi Jelita Seutuhnya”, so here is the next part. Tapi, sebelumnya, Rahay minta maaf karena telat banget updatenya karena satu dan lain hal yang membuat Rahay telat update. To be honest, biasa lah ya karena kegalauan mahasiswi tingkat akhir. Nikah atau s2? :’) haha Ngga ding, sebenernya lebih karena setan malas yang terus menyerang. Huhu. Jadi dear, ayo sama-sama menghalau dengan sekuat tenaga si ‘setan malas’ ini biar kita bisa produktif yaa! Fighting!
Udah ya basa-basinya takut jadi basi basa :p so, here is the 2nd part of ‘Menjadi Jelita Seutuhnya”! Happy reading, sweetheart! <3
                       
           
source: devianart
Kira-kira dalam bahasa Jepang berarti  sesuatu yang kemilau. Penggalan cerita di atas diambil dari novel berjudul Kira-Kira karya Chyntia Kadohata. The story reminds us to always see “something glitters” in everything. Maksudnya adalah kita harus melihat bahwa di setiap hal yang menurut kita menyakitkan, kurang baik dan kita tidak suka, akan selalu ada hal bagus, baik dan positif yang menyertainya. Hal ini yang harus kita percaya kepada yang maha Sempurna, Allah SWT. Ini pun yang selalu kak Nadhira pegang selama tinggal di luar negeri. Bagaimana tidak? Ketika kita tinggal di negeri orang, tidak ada yang dapat menolong kita kecuali Allah. Begitu datang cobaan atau ujian siapa yang akan kita mintai tolong selain Allah, bukan? Menurut kak Nadhira pula, kita bisa dengan sangat merasakan pertolongan Allah ketika sedang susah. Ketika kita berbuat dosa pun balasannya akan datang secepat kilat. Benar-benar menampar kita keras-keras. Nah, di sini lah yang harus kita ingat, bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan sehingga kita tidak mudah menyerah begitu saja.  Dan satu hal yang selalu aku ingat dari kata-kata kak Nadhira, kita harus selalu tenang dalam menghadapi masalah. Tenang, tenang, dan tenang. Jadi, let us always believe in “kira-kira” or “glitters” in every darkness.   
Nah, setelah kita bisa percaya bahwa bantuan Allah begitu nyata, ini saatnya kita saling membantu sesama muslimah untuk terus memperbaiki diri dan saling menginspirasi. Hayoo, bagaimana caranya? Jawabanya tentu: banyak. Ya, salah satunya seperti yang kak Nadhira lakukan yaitu menginspirasi melalui sosial media khususnya Instagram serta menulis di blog dan menerbitkan buku. Coba deh tengok akun pribadi kak Nadhira di @nadhiraarini. Intip kreatifnya kak Nadhira membuat quote-quote penyemangat dan berdakwah dengan lembut dan santun.
Cara keren kak Nadhira di atas bisa banget kita tiru nih, girls. Pertama-tama, kita gali dulu apa sih bakat atau passion kita? Setelah kita mengetahuinya, kita bisa sharing tentang passion kita lewat sosial media atau blog nih, dear. For instance, we are a book freak. Kita bisa memanfaatkan hobi kita itu untuk menularkan virus membaca loh. Kita bisa membuat instagram khusus berisikan review atau rekomendasi buku-buku keren lengkap dengan gambar buku hasil jepretan kita sendiri atau biasa disebut bookstagram. Apa pun yang berguna dapat menjadi inspirasi, loh. Misalnya hal yang kita anggap remeh temeh seperti kebiasaan kita tyding up bisa juga bisa menginspirasi temen-temen yang belum bisa tyding up dengan rutin. Seberapa kecil keahlian kita harus diapresiasi ya, girls. Kita itu berharga. Let’s love ourselves more! <3
Lalu, pasti di antara kalian ada yang melontarkan pertanyaan seperti ini: Rahay, seseorang yang dapat menginspirasi kan karena mereka sudah mengetahui passion mereka, terus kalau yang belum bagaimana cara mengetahui passion kita?
            Yups, sering kali walaupun kita sudah menginjak usia dewasa, kita merasa tidak mempunyai passion atau bakat. Kalau menurutku, bukan tidak punya bakat atau passion tetapi hanya belum tahu dan belum ada kemauan untuk mencari tahu. Jadi, gimana sih cara mengetahui passion kita? Kalau ala Rahay sih gini : Passion is something make me more alive. Something like a dope.  Sesuatu yang ketika kita melakukannya kita benar-benar bersemangat dan senang walaupun di lakukan berulang ulang sampai bosan. Bisa juga yang menyelamatkan kita dari kebosanan. Passion atau pun bakat bisa dilihat juga dari sesuatu yang menurut kita atau orang-orang di sekitar kita, kita jago dalam hal itu. So, don’t hesitate to ask your friends, family or beloved ones what are you good at. Karena terkadang mereka lebih peka dan bisa melihat apa passion kita. Hehe from now on, yuk cari tahu apa sih passion, keahlian atau bakat kita. Then, let’s inspire each other! ^^


Yuk, jadi muslimah yang cantik luar dalam.
Quotes from Uglies Novel. Picture sources: musical-moose



PS: Kira-kira and Uglies novel are two must read book. I do recommend these book for your brain vitamin. Jadilah calon ibu yang cerdas dengan memperbanyak membaca buku. Yuk girls, mulai sekarang rajinlah membaca buku! Prepare your self to be supermom for your children.

Constellation of love,

Rahayours
Wasalamu’alaikum wr.rb.

Senin, 09 April 2018

Menjadi Jelita Seutuhnya(Part 1)


Assalamu’alaikum dear shalihah, 

            Bagaimana kabar kalian, dear shalihah yang cantik? 

Semoga selalu dilimpahi cinta yang luar biasa dari yang maha cinta, cinta sejati kita, Allah SWT yaa. Alhamdulillah sabtu ini, pada tanggal 7 April, aku dikasih kesempatan nih sama sang maha romantis buat ketemu sama salah satu muslimah yang menginspirasi. Siapakah dia? Dia adalah seorang penulis buku berjudul “Ketika  Dhira  Jatuh Cinta”. Hayoo? Adakah yang tahu? Yes dear, namanya Kak Nadhira Arini. Kakak cantik yang telah berhasil menginspirasi banyak muslimah ini berhasil menginspirasi aku juga. Alhamdulillah ya, cyiiin. Hal ini berujung dengan lahirnya tulisan ini karena aku ingin menularkan inspirasi yang sudah kak Nadhira kasih buat aku. Hehe. Like we know together, sharing is caring, right? So, without any further ado, let’s begin the journey to see how kindhearted and merciful our God, Allah SWT is. Enjoy!
Jadi, sebenarnya, aku mengikuti acara yang pembicaranya adalah Kak Nadhira itu sama sekali nggak ada niatan sebelumnya. Bahkan, sebelumnya pun aku belum kenal nih sama kak Nadhira ini. Tapi, berhubung there is someone whom I do adore mengajakku ke sana akhirnya aku iyain aja nih tanpa pikir panjang. Padahal, sekarang-sekarang ini lagi galauin skripsi loh. Iya dong mending galauin skripsi daripada galauin si dia yang peduli sama kita juga ngga, yak an? * ups  Terus, mendaftarnya pun mepet h-2 sebelum acara digelar. Wow banget kan ya. Terus juga, jiwa-jiwa fangirl akut macam aku pasti bakalan mikir keras kan buat dateng ke acara itu. Bukan karena apa-apa, karena merasa belum siap. Karena aku berfikir pasti yang dateng ukhti-ukhti yang agamanya sudah keren-keren. Terus aku ngaca di cermin. Lah aku tuh apa? Cuma serpihan atom :’)
Okey lah cyin,  memang bukan waktunya untuk bergalau ria. Sekarang waktunya buat kasih tahu apa aja nih inspirasi yang kak Nadhira kasih di acara kemuslimatan ini. Jadi begini wahai calon isteri idaman suami, inspirasi yang dikasih kak Nadhira adalah pengalaman super kerennya ketika di luar negeri, bagaimana menjadi muslimah yang menginspirasi serta cerita dibalik hijrahnya. Beberapa point tersebut bakalan dijadiin 3 part nih dear, jadi cerita soal muslimah yang menginspirasi serta serba-serbi hijrah bakalan dipost di postingan selanjutnya ^^ stay tune yaaa.
You know what, sweetheart? I bet you will adore her like the way I adore her. Trust me ;) Idih rahay lebay nih. Bodo ah, yang penting kenyataannya emang begitu kok hehe. Nih ya, melihat cv kak Nadhira aja aku sampai melongo. Itu cv apa nulis diary. What? Iya saking penuhnya. It means sepak terjang kakak cantik ini sudah tidak diragukan lagi. Dia pernah pergi ke Jerman loh untuk belajar dan juga menjadi  volunteer. Ngga Cuma itu aja, ada lagi nih yang bikin aku geleng-geleng kepala saking kagumnya. Why? She ever went to PALESTINE. Nope sweetheart, kamu lagi ngga salah baca. Dia bener-bener udah pernah ke Palestine. Subhanallah, Kak Nadhira adalah definisi cantik yang sesungguhnya, cantik dari luar dan dalam. Dia bahkan encourage orang-orang yang akan pergi ke sana lewat instagramnya dengan menunjukkan bahwa keadaan di sana aman buat para volunteer yang akan berjuang di sana. I do believe the same way, karena untuk apa kita takut kalau kita mempunyai Allah maha agung lagi maha sempurna kan?
Nah sekarang tentang pengalaman dia ketika di Jerman.  Singkat cerita, di sana, Kak Nadhira menjadi volunteer untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Dan masya Allah, untuk menjadi volunteer saja, banyak sekali ujian yang datang menggodanya. You know what? Pasti selalu ada perintah untuk membuka jilbab ketika sesi wawancara berlangsung. Bayang betapa membuat galau situasi tersebut, bukan? Galaunya kita mikirin doi sama sekali ngga ada keren-kerennya dibandingkan dengan galaunya kak Nadhira, betul? Astaghfirullah. Yang aku salut dari Kak Nadhira ketika menjawab titah mereka untuk melepas jilbab adalah jawabannya yang lembut dan santai. Dia dengan ceria dan bersahabat menjelaskan bahwa dia tidak melepas jilbabnya karena agama dan  Tuhannya. Subhanallah. Aku suka caranya menyampaikan tanpa paksaan, tanpa kekerasan dan tanpa terkesan ingin menang sendiri. Then, ada fakta menarik bahwa kenapa Kak Nadhira harus buka jilbab di sana, ternyata ada alasan di balik itu. Jadi, menurut mereka jilbab yang kak Nadhira pakai bisa jadi sarang parasit atau kuman yang dapat membahayakan anak-anak special ini. Namun, dengan semangat yang kuat, kak Nadhira membuktikan bahwa dengan berhijab, dia masih tetap dapat mengurusi anak-anak tersebut dengan sepenuh hati. Voila. Anak-anak tersebut menjadi sayang pada Kak Nadhira. Berkat itulah, kak Nadhira diterima di tempat itu.  Subhanallah.  Sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus dan bersungguh-sungguh pasti akan bersemi indah, bukan?
Tantangan untuk survive di negeri orang yang notabene minoritas Islam pasti nggak ada surutnya. Yups, masalah lain ketika kita berada di negara yang muslimnya minoritas adalah masalah perut nih, sweetheart. Kita harus mencari makanan halal yang tentunya susah dicari. Kita bisa saja tidak memakan daging babi dan memilih membeli ayam di toko-toko yang bertebaran di sana. Eitss. Tunggu dulu. Itu pun belum cukup karena kita tidak tahu apakah ayam tersebut dipotong dengan menyebut asma Allah atau tidak. Susah ya? Huhu I feel her too L It is really hard to find halal food back then in Thailand *eh maaf malah curcol hehe Nah, untuk cari aman, kita bisa membeli makanan di toko orang Turki yang dijamin ada label halalnya atau memilih menjadi vegetarian aja. Terus nih, karena kak Nadhira bekerja untuk anak berkebutuhan khusus, maka otomatis kak Nadhira diberi makanan oleh pihak pengelola. Jadi, kalau di Jerman, mereka memang suka makan bersama gitu di satu meja. Karena melihat kak Nadhira tidak memakan makanan yang mereka sediakan, mereka menyediakan ayam yang menurut mereka kak Nadhira bisa makan. Tapi, kak Nadhira masih saja tidak menyantap makanan mereka. Lalu, mungkin muncul tanda tanya besar di kepala mereka. What’s wrong with this girl? Bukannya dia bisa makan chicken? Di sini, mereka menanyakannya langsung kepada kak Nadhira. Perlu diingat ya sweetheart orang Jerman itu bener-bener bluntly to the point dan tanpa ekspresi kalau ngomong, jadi jangan kaget ngomong sama orang Jerman. Itu sih aku juga kata kak Nadhira. Rahay ngga sok tahu :p Kak Nadhira pun akhirnya menjelaskan duduk persoalan dengan ceria, tenang dan lembut. Akhirnya mereka mengerti. Keesokan harinya, Tadaaaa! mereka sudah menyuguhkan ayam yang benar-benar dari toko Turki. Wiiih subhanallah banget yaa.
Yups, begitulah nano-nanonya tinggal di luar negeri, sweetheart. Sebesar apa pun masalahnya nanti jika kita ke luar negeri. Hanya satu kunci yang dapat menyelamatkan kita. Yaitu selalu gantungkan semuanya kepada Allah SWT. Then, this writing will be closed by one of my favourite quote from kak Nadhira “Di dalam hidup, kita hanya perlu melukis satu garis lurus dan biarkan  Allah yang member titik.” See you in the next part of my writing! <3
Wasalamu’alaikum wr.wb.

Constellation of love,
Rahayours