Rindu
Langit Biru
Aku
terbangun di tempat yang asing. Kulempar pandangan ke sekelilingku. Hanya ada
kepulan asap yang membumbung tinggi meninggalkan puing yang berserakan. Tiba-tiba.
Buum! Terdengar suara dentuman mahadahsyat menghujam bumi yang tak hanya
memekakan telinga namun juga berhasil mencabik dasar hati. Terlihat jelas di
antara dua menara yang menjulang itu api yang semakin liar. Ya Tuhan apa yang
sebenarnya terjadi? Setelahnya, banyak sekali manusia yang lari tunggang langgang
menyelamatkan diri . Terdengar pula teriakan-teriakan penuh ketakutan.
Kemudian, sudut mataku menangkap sesosok gadis yang keluar dari kepulan asap
tebal. Kulihat gadis itu terjatuh. Sontak aku berlari menghampirinya.
“Maaf,
kau tak apa?” tanyaku seraya membantunya bangun.
“Aku
baik-baik saja,” ucapnya singkat namun syarat kepedihan yang mendalam.
“Sebenarnya
apa yang terjadi dengan kota ini?” tanyaku lagi dengan hati-hati.
Gadis
itu mendongak ke atas. Seolah meminta penjelasan pada Sang Khalik. Lalu, ia
menatapku lekat, seraya berkata, “Entahlah. Satu yang pasti aku rindu langit
biru.”
“Apa
maksudmu? Aku semakin tak mengerti.”
Ia
menunjuk ke atas. Ya, hanya ada kelabu. Langit kelabu penuh dengan duka. Di
pipiku mulai turun gerimis. Aku tak sanggup melihat keadaan kota ini,Tuhan.
Kulihat
kembali sekelilingku. Apakah tak ada tempat yang aman untuk mereka? Gadis itu
seolah dapat membaca pikiranku, ia tiba-tiba saja berkata, “Mungkin tak ada
tempat aman di sini. Namun, setidaknya aku tahu tempat yang layak untuk kami.
Ayo ikut aku.”
Perlahan
kupapah gadis itu sambil mengamati sekitar. Astaga! Aku seperti tersandung
sesuatu. Apakah benar ini mayat? Ya
Tuhan aku benar-benar tak sanggup harus menonton potongan kejadian ini.
Aku
menatap gadis itu. Mengharapkan penjelasan.
“Ya,
setiap hari pasti ada korban. Tinggal menunggu saja kapan giliran kita,”
ucapnya sinis.
“Kau
tak boleh bicara seperti itu! Kau seperti tidak terima dengan takdir Tuhan.”
“Ya!
Aku memang tidak pernah bisa menerimanya. Karenanya ayah dan ibuku terenggut
oleh kebiadaban manusia-manusia di seberang tembok tebal pembatas itu dan juga
merenggut langit biru milik kami,” ucapnya dengan dikuasai kemarahan. Tanpa
mempedulikanku dia berlari dengan sisa tenaganya ke sebuah tenda pengungsian.
Akhirnya, aku sampai juga di tempat yang ia maksud. Terimakasih Tuhan.
Kubuka
perlahan tenda itu. Syukurlah. Aku lega karena kelabu tak menyelimuti tempat
ini juga. Ada banyak anak yang sedang bermain dengan riang. Namun, dibalik tawa
mereka tersembunyi kekhawatiran mendalam. Tapi, aku salut dengan ketabahan dan
kesabaran mereka menghadapi ini. Namun, kudapati seorang anak yang terlihat
berbeda. Kudekati ia.“Hai anak manis. Siapa namamu?”
ia
tak menjawab. Hanya menoleh sebentar ke arahku kemudian kembali menoleh ke
luar. Seperti sedang menunggu sesuatu.
Aku
kembali mencoba bertanya, “Kau kenapa tak ikut bermain dengan yang lain?”
Dia
masih tetap membisu. Kali ini ia justeru pergi meninggalkanku begitu saja. Ya
Tuhan! Ternyata ia tak mempunyai tangan kanan. Di depan tenda ia bersimpuh
menengadahkan satu tangannya juga menundukkan kepalanya. Berdoa dengan
takzimnya. Dari air wajahnya tergambar jelas pengharapan akan hari esok yang
lebih baik. Cahaya senja membasuh bocah itu. Seolah ikut mengamini lantunan
doanya.
***
Kuputuskan
untuk kembali ke dalam tenda. Mereka hanya berteman cahaya lilin. Asyiknya
belajar berhitung dan membaca cerita menjadi pelipur lara. Dan ya! Bocah berbeda itu lagi-lagi sedang menatap ke
luar jendela. Tapi, kali ini tangan kirinya menggenggam sebuah pensil dan
tergeletak sebuah kertas di depannya. Kusapa ia, “Hai. Masih ingat aku?
Masihkah boleh kutahu namamu?”
Dia
masih saja diam dan terburu-buru menyembunyikan kertas tadi. Kemudian, bergegas
meninggalkanku. Penasaran. Kucoba mencari yang ia sembunyikan. Kutemukan banyak
sekali kertas berisi penuh tulisan. Kubaca beberapa. Merinding dan lemas. Aku
tersungkur. Ingin menangis tapi telaga tangisku telah kering dan menyisakan sesak. Malu rasanya menjadi dewasa
namun masih kenak-kanakan. Di sudut bawah kertas itu tertulis rapi sebuah nama.
Aisyah.
***
Bodoh
sekali diriku dulu sempat ingin bunuh diri. Terimakasih Tuhan aku masih diberi
kesempatan untuk hidup hari ini. Kurasa
hari ini lebih baik. Sudah tak ada dentuman-dentuman itu. Hanya saja kelabu
masih membungkus langit. Aku mencoba mencari gadis yang kutemui tempo hari. Tek
sengaja, aku melihatnya berjala pelan menyeret sebuah pedang yang menorehkan
jejak di sepanjang jalanan ini. Aku ikuti dia terus hingga sampai di depan
tembok pembatas. Sambil menghadap tembok, ia ancang-ancang menghujamkan pedang
ke arah perutnya. Astaga! Mungkinkah ia akan bunuh diri?
“Heeey!
Berhenti!” Aku berlari sekencang mungkin dan berusaha mengahalaunya. “Hey kau
gadis belia! Apa sebenarnya yang ada di kepalamu hah? Ini kah caramu
menyelesaikan masalah? Bodoh kau!” ucapku naik pitam.
“Aku
tak butuh nasihatmu! Dan untuk apa aku hidup jika akhirnya harus mati dengan
keji di tangan para biadab itu hah?!” ucapnya dengan mencoba menghujamkan
pedangnya lagi.
Dengan
sekuat tenaga kurebut dan kubuang pedang itu jauh-jauh.“Hey! Asal kau tahu ada
seseorang yang selalu mendoakanmu yang terbaik di setiap sujudnya meski hatinya
perih!”
Tanpa
basa-basi aku berikan kertas milik Aisyah kepadanya. Lalu, dia baca dengan
seksama. Tangisnya pecah dan ia jatuh bersimpuh. Menyadari semuanya. Terlukis
sebuah senyum penuh rasa syukur dan pengharapan yang besar. Digenggam dengan
erat kertas milik adiknya itu.
***
Mataku
terbuka. Silau rasanya melihat lampu yang menggantung di atas kepalaku.
Kudapati selang-selang saling tumpang tindih menopang tubuhku. Kulihat ibu
sedang menggenggam erat tanganku. “Syukurlah. Terimakasih Tuhan. Akhirnya kau
sadar juga Annisa,” ucap ibu seraya menangis bahagia.
“Sebenarnya
apa yang terjadi ibu?”
“Ceritanya
panjang,Nak. Tapi satu yang pasti ibu bangga padamu karena kamu berani
mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkan orang lain. Oh iya, ibu menemukan ini
di sakumu.” Ibu memberikan kertas kumal kepadaku.
Kubuka
perlahan kertas itu dan kubaca dengan lekat setiap aksaranya:
“Tuhan, maafkan aku yang sering
lalai kepadaMu. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu? Mungkin aku tidak bisa
meminta ayah ibuku atau tanganku kembali. Tapi, tolong kembalikan langit biru
untuk kakak dan tanah airku. Jaga dia dan berikan selalu yang terbaik untuknya.
Berikanlah kecantikan hati agar ia dapat menjadi penyejuk di tanah air tercinta
yang kini gersang kedamaian. Aku ikhlas jika harus membayar dengan
jiwaku,Tuhan. AISYAH.” Kutatap langit biru tanah airku. Menggambarkan
kemerdekaan yang sesungguhnya. Penuh kedaimaian. Semoga aku dapat menjaga
langit tanah air ini tetap biru selamanya. Semoga.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar