Senin, 29 Agustus 2016

Senja Kala Itu , Kau, dan Pattani



Senja Kala Itu , Kau, dan Pattani

Hallo Tuan J,
Ini aku yang bersamamu kala itu. Kala senja indah itu. Bagaimana kabarmu? Semoga selalu diselimuti kebahagian dan keberkahan dari Allah yaa. Aamiin.
Adakah kau mengingatku? Kuharap iya.
Baiklah, adakah kau ingat senja kala itu? Ketika kita duduk bersisian. Mencoba untuk mengenal satu sama lain.
Sejauh yang aku tahu kau adalah pemuda terkuat yang pernah aku temui.
Kau berjuang ditengah gempuran kebencian yang terus dituangkan di kota kecil tempat kelahiranmu.
Pattani. Ya, sebuah provinsi berpenduduk muslim minoritas. Ah, akan sangat sensitif membahas hal ini.
Tapi, di sini aku tak akan menyulut kebencian atau menebarkan sentimen kepada siapa pun. Aku hanya ingin membagikan sepotomg kisah milikmu, Tuan J.
Agar manusia di muka bumi ini bisa saling mencintai di tengah keberagaman.
Kau ingat, kau pernah bercerita bahwa sejak kecil kau sudah sangat bersahabat karib dengan suara bising senjata api yang meletup di mana-mana.
Kehilangan yang dikasihi. Melihat kesakitan di umurmu yang masih seumur jagung. Hati ku perih mendengar itu semua. Aku tak sampai hati menerima kenyataan ada banyak sekali luka yang tertanam di dalam sana. Di dalam hati tulusmu itu.
Bahkan, kau tak terlihat sama sekali ingin mengeluh. Selalu tersenyum dan penuh semangat.
Ah, sungguh malunya aku. Ketika aku masih bisa bernafas dengan bebas di bumi pertiwi dan menerima nikmat yang luar biasa nikmat dari Allah, aku masih sering mengeluh.
Tapi, lihatlah dirimu. Seberapa besarpun luka yang kau dapat. Kau selalu bersyukur dan tidak sedikit pun merutuki takdirmu itu.
Kau bahkan dengan berani merantau ke negeri orang, meninggalkan sanak keluarga, menuntut ilmu demi sepotong kedamaian yang telah lama kau damba.
Ah iya, aku ingat aku pernah menawarimu untuk menetap saja di bumi pertiwi, tapi kau menolak dengan halus. Katamu kau harus kembali ke negeri asalmu demi kedamaian Pathani. Kau siram kebencian yang mekar dengan segala kebaikan yang diajarkan agama penuh kedamaian, Islam.
Aku belajar banyak darimu. Sungguh beruntung pernah bertemu dan mengenalmu.
Terima Kasih untuk senja itu, percakapan yang mendalam, dan semua hal yang ada di dirimu.
Oh Tuan J, tetaplah menjadi pemuda pemberani, penuh semangat dan haus rasa syukur. Semoga selalu istiqomah di jalanNya.
Aku bisa melihat dari sorot matamu betapa kau mendamba senja yang damai tanpa ada kebencian yang mengepul lewat letupan senjaya api.
Kulantunkan doa agar Allah meridhaimu mendapatkan senja itu.
Selamat bertemu di senja indah lain di provinsi mungil nan indah, Pattani.

Dari gadis kaku yang merindukanmu.

Minggu, 10 Juli 2016

Sajak Gadis yang Menunggu

"Kau tahu? Aku bukan hanya sekedar mengagumi. Mungkin ini terdengar sedikit 
menggelikan bagimu. Tak apa. Kau tahu? Aku telah bertahan tanpa kepastian selama hampir sewindu menjadi seperti orang bodoh menunggu orang yang mungkin saja tidak menganggapku. Padahal kau tahu, wanita itu adalah makhluk kepastian, kan? Lucu ya? Aku bahkan pernah bermimpi menjadi satu titik di sebuah awal di mana titik itu akan bermetamorfosa menjadi kata demi kata yang ujungnya kan jadi berlembar lenbar kisah dan menjadi sejarah bagi kita berdua. Terdengar berlebihan, bukan? Itulah kekuatan orang yang sedang jatuh cinta. Cinta? Iya. Yakin bukan nafsu semata? Tentu saja bukan. Sebab ketika suatu saat kamu berubah seperti monster pun aku akan tetap di sini menantimu, menjadi rumah untukmu pulang  ketika dunia mengacuhkanmu  sekalipun. Aku mencintaimu tanpa alasan. Aku mencintaimu atas izin ayang Mahacinta yang menanamkan benih benih indah bernama cinta di dalam hati ini.Aku tidak akan memaksa  kau harus memilihku. Itu sama saja menodai hakikat cinta itu sendiri. Kau punya cinta  yang patut kau perjuangkan juga. Mungkin kau akan betanya? Lantas aku bagamana? Aku akan baik baik saja.  Tenanglah. Mungkin akan terdengar seperti orang munafik. Siapa yang cinta tapi tak ingin memiliki? Sejujurnya apa yang harus dimiiki. Karna sejatinya, diri kita pun bukanlah milik kita. Aku akan tetap berada di sini. Di tempat yang sama. Menunggu skenario tebaik dari Tuhan. jika alam raya ini  mengamini kita untuk bersama, maka akan datang skenario maha hebat itu. Namun jika tidak pun, Tuhan masih memberikan skenario mahahebat itu untuk aku dan kamu. Meski harus ada tulang punggung dan tulang rusuk lain yan melengkapi aku dan kamu. jika suatu hari kau butuh aku. Datanglah. Akan kubuka lebar pintu rumah ini. Untukmu. Sebenarnya ada banyak sekali pertanyaan yang terus berotasi di kepalaku, yang ingin aku tanyakan langsung padamu. Tapi aku ragu, Seperti sebenarnya kau menganggapku ini sebagai apa? ah lebih tepatnya seperti apa? Lalu, apakah kau masih merasa perasaan ini sebercanda itu? Ah, apa kau menganggapku ada?

Jumat, 06 Mei 2016

Rindu Langit Biru



Rindu Langit Biru
Aku terbangun di tempat yang asing. Kulempar pandangan ke sekelilingku. Hanya ada kepulan asap yang membumbung tinggi meninggalkan puing yang berserakan. Tiba-tiba. Buum! Terdengar suara dentuman mahadahsyat menghujam bumi yang tak hanya memekakan telinga namun juga berhasil mencabik dasar hati. Terlihat jelas di antara dua menara yang menjulang itu api yang semakin liar. Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi? Setelahnya, banyak sekali manusia yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri . Terdengar pula teriakan-teriakan penuh ketakutan. Kemudian, sudut mataku menangkap sesosok gadis yang keluar dari kepulan asap tebal. Kulihat gadis itu terjatuh. Sontak aku berlari menghampirinya.
“Maaf, kau tak apa?” tanyaku seraya membantunya bangun.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya singkat namun syarat kepedihan yang mendalam.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kota ini?” tanyaku lagi dengan hati-hati.
Gadis itu mendongak ke atas. Seolah meminta penjelasan pada Sang Khalik. Lalu, ia menatapku lekat, seraya berkata, “Entahlah. Satu yang pasti aku rindu langit biru.”
“Apa maksudmu? Aku semakin tak mengerti.”
Ia menunjuk ke atas. Ya, hanya ada kelabu. Langit kelabu penuh dengan duka. Di pipiku mulai turun gerimis. Aku tak sanggup melihat keadaan kota ini,Tuhan.
Kulihat kembali sekelilingku. Apakah tak ada tempat yang aman untuk mereka? Gadis itu seolah dapat membaca pikiranku, ia tiba-tiba saja berkata, “Mungkin tak ada tempat aman di sini. Namun, setidaknya aku tahu tempat yang layak untuk kami. Ayo ikut aku.”
Perlahan kupapah gadis itu sambil mengamati sekitar. Astaga! Aku seperti tersandung sesuatu. Apakah benar ini mayat?  Ya Tuhan aku benar-benar tak sanggup harus menonton potongan kejadian ini.
Aku menatap gadis itu. Mengharapkan penjelasan.
“Ya, setiap hari pasti ada korban. Tinggal menunggu saja kapan giliran kita,” ucapnya sinis.
“Kau tak boleh bicara seperti itu! Kau seperti tidak terima dengan takdir Tuhan.”
“Ya! Aku memang tidak pernah bisa menerimanya. Karenanya ayah dan ibuku terenggut oleh kebiadaban manusia-manusia di seberang tembok tebal pembatas itu dan juga merenggut langit biru milik kami,” ucapnya dengan dikuasai kemarahan. Tanpa mempedulikanku dia berlari dengan sisa tenaganya ke sebuah tenda pengungsian. Akhirnya, aku sampai juga di tempat yang ia maksud. Terimakasih Tuhan.
Kubuka perlahan tenda itu. Syukurlah. Aku lega karena kelabu tak menyelimuti tempat ini juga. Ada banyak anak yang sedang bermain dengan riang. Namun, dibalik tawa mereka tersembunyi kekhawatiran mendalam. Tapi, aku salut dengan ketabahan dan kesabaran mereka menghadapi ini. Namun, kudapati seorang anak yang terlihat berbeda. Kudekati ia.“Hai anak manis. Siapa namamu?”
ia tak menjawab. Hanya menoleh sebentar ke arahku kemudian kembali menoleh ke luar. Seperti sedang menunggu sesuatu.
Aku kembali mencoba bertanya, “Kau kenapa tak ikut bermain dengan yang lain?”
Dia masih tetap membisu. Kali ini ia justeru pergi meninggalkanku begitu saja. Ya Tuhan! Ternyata ia tak mempunyai tangan kanan. Di depan tenda ia bersimpuh menengadahkan satu tangannya juga menundukkan kepalanya. Berdoa dengan takzimnya. Dari air wajahnya tergambar jelas pengharapan akan hari esok yang lebih baik. Cahaya senja membasuh bocah itu. Seolah ikut mengamini lantunan doanya.
***
Kuputuskan untuk kembali ke dalam tenda. Mereka hanya berteman cahaya lilin. Asyiknya belajar berhitung dan membaca cerita menjadi pelipur lara. Dan ya!  Bocah berbeda itu lagi-lagi sedang menatap ke luar jendela. Tapi, kali ini tangan kirinya menggenggam sebuah pensil dan tergeletak sebuah kertas di depannya. Kusapa ia, “Hai. Masih ingat aku? Masihkah boleh kutahu namamu?”
Dia masih saja diam dan terburu-buru menyembunyikan kertas tadi. Kemudian, bergegas meninggalkanku. Penasaran. Kucoba mencari yang ia sembunyikan. Kutemukan banyak sekali kertas berisi penuh tulisan. Kubaca beberapa. Merinding dan lemas. Aku tersungkur. Ingin menangis tapi telaga tangisku telah kering dan  menyisakan sesak. Malu rasanya menjadi dewasa namun masih kenak-kanakan. Di sudut bawah kertas itu tertulis rapi sebuah nama. Aisyah.
***
Bodoh sekali diriku dulu sempat ingin bunuh diri. Terimakasih Tuhan aku masih diberi kesempatan untuk hidup hari ini.  Kurasa hari ini lebih baik. Sudah tak ada dentuman-dentuman itu. Hanya saja kelabu masih membungkus langit. Aku mencoba mencari gadis yang kutemui tempo hari. Tek sengaja, aku melihatnya berjala pelan menyeret sebuah pedang yang menorehkan jejak di sepanjang jalanan ini. Aku ikuti dia terus hingga sampai di depan tembok pembatas. Sambil menghadap tembok, ia ancang-ancang menghujamkan pedang ke arah perutnya. Astaga! Mungkinkah ia akan bunuh diri?
“Heeey! Berhenti!” Aku berlari sekencang mungkin dan berusaha mengahalaunya. “Hey kau gadis belia! Apa sebenarnya yang ada di kepalamu hah? Ini kah caramu menyelesaikan masalah? Bodoh kau!” ucapku naik pitam.
“Aku tak butuh nasihatmu! Dan untuk apa aku hidup jika akhirnya harus mati dengan keji di tangan para biadab itu hah?!” ucapnya dengan mencoba menghujamkan pedangnya lagi.
Dengan sekuat tenaga kurebut dan kubuang pedang itu jauh-jauh.“Hey! Asal kau tahu ada seseorang yang selalu mendoakanmu yang terbaik di setiap sujudnya meski hatinya perih!”
Tanpa basa-basi aku berikan kertas milik Aisyah kepadanya. Lalu, dia baca dengan seksama. Tangisnya pecah dan ia jatuh bersimpuh. Menyadari semuanya. Terlukis sebuah senyum penuh rasa syukur dan pengharapan yang besar. Digenggam dengan erat kertas milik adiknya itu.
***
Mataku terbuka. Silau rasanya melihat lampu yang menggantung di atas kepalaku. Kudapati selang-selang saling tumpang tindih menopang tubuhku. Kulihat ibu sedang menggenggam erat tanganku. “Syukurlah. Terimakasih Tuhan. Akhirnya kau sadar juga Annisa,” ucap ibu seraya menangis bahagia.
“Sebenarnya apa yang terjadi ibu?”
“Ceritanya panjang,Nak. Tapi satu yang pasti ibu bangga padamu karena kamu berani mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkan orang lain. Oh iya, ibu menemukan ini di sakumu.” Ibu memberikan kertas kumal kepadaku.
Kubuka perlahan kertas itu dan kubaca dengan lekat setiap aksaranya:
“Tuhan, maafkan aku yang sering lalai kepadaMu. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu? Mungkin aku tidak bisa meminta ayah ibuku atau tanganku kembali. Tapi, tolong kembalikan langit biru untuk kakak dan tanah airku. Jaga dia dan berikan selalu yang terbaik untuknya. Berikanlah kecantikan hati agar ia dapat menjadi penyejuk di tanah air tercinta yang kini gersang kedamaian. Aku ikhlas jika harus membayar dengan jiwaku,Tuhan. AISYAH.” Kutatap langit biru tanah airku. Menggambarkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Penuh kedaimaian. Semoga aku dapat menjaga langit tanah air ini tetap biru selamanya. Semoga.



Kamis, 18 Februari 2016

Si Putih yang Lenyap




Ketika senandung tangis bayi-bayi tak berdosa itu semakin pilu
Memekakan telinga si pembantu
Menewaskan tentara serdadu
Tapi di situ ada obat penawar rindu
Rindu akan dendangan rasa syukur mulut-mulut tukang sunat uang itu
Adakah kau tahu?
Adakah kau dengar?
Adakah kau mengerti?
Adakah kau lantas berpikir?
Wahai manusia dewasa yang katanya peduli
Atau sekedar hanya obral janji
Masih adakah secuil putih di hatimu kini?

Minggu, 31 Januari 2016

He?



Credit to owner. Source: google.com


He?

His charming is like sunshine in the winter
Bring extra warmth into my deepest heart
Even though he is the ice himself
Sometimes alter the warmth into cold
And touch, froze my heart
Into a fragile ice flake
In order to easily broke it
Oh wait! I made a mistake!
My lovable sunshine ?
Nope! The brilliant witch he is!
He spells weird spells du bi du ba du du
To control my heart!
He flies me high up to the milky way
Suddenly he brings me down to the ground
Ah I do hate him!
No! I make a mistake either
 I do fall for him actually!
How can?
God always give big temptation in the morning
His spherical eyes shining beyond the sun
Lit wet firework in my heart!
Look! He got perfect lips!
The sexy torn apart lips tempts me
I could not bear ignoring this temptation
Oh God! So sorry for this sweetest sin ever!
So, who is he actually?
I don’t know!
I just realize that he is a DOPE!
Truly DOPE!
I couldn’t live without a DOPE!
-Rahay-