Kamis, 28 Januari 2016

Aku Mau Teman, Pa!





“Pa.. Papa. Aku mau dibeliin scooter terbaru dong. Ayolah,pa. Please!” ucap Dino merengek pada papanya lewat telepon.
Dengan suara berat Papa, papa menjawab dengan tegas, “Dino sayang, papa lagi sibuk. Nanti sepulang dari luar negeri papa langsung beliin ya!”
“Tapi,Pa. Aku maunya sekarang. Papa yang beliin di luar negeri. Teman-temanku udah punya semua. Ayolah! Papa baik deh!” Ucapnya dengan merengek sekali lagi.
“Yaudah. Nanti papa suruh mama beliin buat kamu. Udah dulu ya,Dino. Jangan lupa belajar dan jangan jadi anak nakal.”
“Iya pa! Siap! Makasih papa! Dadah..”
Tut tut tut. Suara telepon terputus. Dino pun langsung berlari menuju teras rumah. Menunggu ketiga teman satu kelasnya yang kebetulan tinggal satu kompleks dengannya. Sudah satu minggu ini Dino minta dibelikan barang-barang yang selalu dipunyai oleh ketiga temannya itu. Bahkan ia ingin selalu terlihat lebih hebat dari mereka.
Keesokan harinya, Scooter impian Dino sudah di tangan. Ia mengendarainya ke sekolah.
“Hai,” sapa Dino pada ketiga temannya itu sambil memarkirkan scooter barunya itu.
“Hai..” ucap ketiga temannya itu dengan kompak.
“Eh, lihat deh scooter Dino keren ya! Baru ya Din? Beli di mana?” tiba-tiba Bimo bertanya, penasaran.
“Oh iya dong! Ini baru dibeliin papaku. Dari luar negeri loh,” ucap Dino dengan sombong dan  sedikit kebohongan. Padahal, scooter Dino itu baru saja dibeliin mamanya di salah satu mall di kotanya.
“Wah! Keren banget!” ucap Niko memuji.
Dino hanya senyam-senyum sendiri. Hatinya kegirangan mendengar ucapan Niko. Di dalam hatinya penuh dengan rasa bangga. Dia merasa bahwa dia paling hebat.
“Kita boleh pinjam nggak,Din sepulang sekolah?” tanya Revo ingin mencoba scooter keren itu.
“Hmm. Maaf  ya. Nggak boleh! Nanti scooterku rusak lagi..”ucap Dino dengan nada yang keras.
Mereka bertiga terlihat sangat kecewa. Mereka meninggalkan Dino ke ruang kelas tanpa pamit. Bahkan dengan muka yang sangat kecut.
“Huh dasar! Bisanya cuma pinjam! Sementara scooter kalian yang butut itu ke mana sih? Nyusahin aja. Aku nggak butuh teman kayak kalian,” rutuk Dino dalam hati.
Dia berjalan menuju kelas dengan bersungut-sungut.
Sesampai di depan kelas. Ia melihat teman-temannya sedang berkerumun di salah satu meja.
“Ada apa sih ini? Kok ramai sekali?” tananya dalam hati.
Dia mendekat ke meja itu.
“Eh, lagi pada ngapain sih?”
“Ini Din, Si Tito punya tablet baru,” jawab Bimo.
“Iya. Lebih keren dari scootermu! Haha!” ejek Revo balas dendam yang tadi.
Hati Dino memanas. Dia semakin iri. Dia sudah berniat minta dibelikan tablet yang lebih bagus dari punya Tito pada papanya.
Brak! Terdengar suara seseorang membanting pintu. Dengan kesal, ia buang tas ke lantai dan bergegas menelpon papanya yang masih di luar negeri.
“Hallo papa? Pa, aku mau dibeliin tablet kaya punya Tito. Kalo bisa yang lebih bagus ya,pa! Please,pa! Aku janji kalo papa beliin , aku akan belajar lebih giat lagi.”
“Aduh. Dino kan baru dibeliin scooter kenapa minta tablet? Buat apa?”
“Ah papa masa tega si kalo missal ada tugas di sekolah dan aku harus browsing di internet gimana,pa?”ia terus mencoba dengan berbagai cara agar berhasil mendapatkan tablet itu.
“Kan ada laptop sayang?”
“Aah. Laptop kan berat,pa. Masa aku harus bawa laptop ke sekolah?”
“Ya sudah. Tapi kamu harus ingat. Jangan pernah lupa belajar ya. Kalo sampai nilaimu turun. Akan papa minta lagi tabletnya.”
“Asyik! Papa baik banget deh! Makasih papa sayang! Oh iya, papa kapan pulang sih? Dino kangen. Dino di rumah sendirian terus. Mama kan juga sibuk sama pekerjaannya,Pa.” ucap Dino sedih.
Tanpa sempat mendapatkan jawaban telepon dari papa sudah terputus.
“Kenapa papa tiba-tiba matiin teleponnya? Ah, mungkin dia lagi sibuk banget. Yes! Yang penting aku bakalan punya tablet.” Ucapnya sambil loncat-loncat kegirangan.
Dengan semangat yang meletup-letup. Dia berangkat ke sekolah dengan membawa barang baru lagi. Niatnya hanya satu. Pamer.
Di kelas ia membuka perlahan-lahan tabletnya. Hingga Niko mengetahuinya.
“Temen-temen, lihat deh tablet Dino baru!” ucap Niko sambil menunjuk ke arah Dino.
Tiba-tiba seisi kelas menghampiri Dino ingin sekali melihat tablet canggih itu.
“Din, tabletmu keren banget! Pasti lebih bagus dari punya Tito deh,” ucap salah seorang teman , memuji.
“Ehem! Bisa jadi sih gitu. Ini kan dibeliin papaku di luar negeri. Dari kualitasnya aja udah beda,” ucapnya menyombongkan diri.
“Eh! Awas jangan sampai ya kalian minta pinjam ke Dino. Paling sama dia ngga dibolehin!” ucap Tito panas.
“Apa sih maksudmu,To?”
“Udahlah jangan sok baik. Aku lihat langsung kok waktu kamu melarang Revo dkk buat pinjam scooter barumu itu. Paling tabletmu juga nggak bakalan boleh dipinjem kan?”
“Huuuu!” terdengar sorakan dari seluruh kelas yang tertuju pada Dino.
Dino hanya bisa tertunduk penuh rasa malu.
“Udahlah teman-teman.. Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia ngga mau minjemin ke kita. Mungkin memang dia takut kalo misalnya dipinjem terus rusak kan yang dimarahin ortunya juga dia?” ucap Revo membela Dino.
“Kamu apa-apaan si,Vo?Bikin aku tambah malu aja. Udah nggak usah belain aku! ” ucapnya sambil berlari keluar kelas.
Ketika teman-temannya yang lain langsung pulang ke rumah. Dino pergi ke taman kompleks terlebih dahulu. Di situ dia mengangis tersedu-sedu. Dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Padahal semua barang yang dia inginkan sudah dia dapatkan. Tapi, justeru hal itu tidak membuatnya bahagia sama sekali. Ia merasa ada yang kurang. Apakah itu?
Ketika sore mulai tiba. Dino baru memutuskan untuk pulang. Ketika sampai di depan lapangan kompleks dia berhenti sebentar. Dia mengamati ketiga temannya yang sering dia sakiti. Yaitu Niko,Bimo, dan Revo.
“Mereka cuma main kejar-kejaran dan kelereng. Kenapa mereka terlihat sangat bahagia ya?” Dia berpikir sangat keras.
Setelah begitu lama dia mengamati ketiga temannya itu, akhirnya ia menemukan jawabannya. Dia akhirnya berlari sangat kencang menuju rumahnya. Tanpa menaruh peralatan sekolahnya terlebih dahulu. Ia bersegera menelepon papanya.
Tapi sayang, papanya tidak menjawab. Dino masih sabar menunggu jawaban sampai dia tak sadar bahwa air matanya telah jatuh.
“Aku mau teman,Pa. Aku kesepian. Pa tolong aku! Aku butuh teman!”
Masih tidak ada jawaban dari seberang. Doni sadar tidak semua yang dibutuhkannya selalu bisa dibeli dengan uang. Sambil menangis akhirnya Doni kembali berlari menuju lapangan.
Betapa leganya ia ketika ia mendapati ketiga temannya itu masih berada di sana.
Dia berlari menghampiri Revo dan memeluknya erat.
“Revo, maafin aku ya. Aku ngaku aku salah. Maaf udah ngecewain kamu. Sekarang aku sadar, kalo aku cuma butuh teman.”
“Aku juga minta maaf ya sama kalian berdua. Apa kalian mau masih jadi temanku?” ucapnya dengan penuh pengharapan.
“Iya nggak apa kok,Din. Kita ngerti. Aku juga minta maaf ya. Aku sering bikin kamu kesel,” ucap Revo.
“Iya Din. Aku mau kok. Bahkan kita bisa jadi sahabat kan?”
“Iya betul tuh. Sahabat. Selalu ada di saat suka maupun duka.”
“Makasih ya teman-teman. Aku sayang kalian.”
Mereka bertiga memeluk Dino erat. Mereka berjanji di dalam hati masing-masing untuk selalu menjaga dan memahami satu sama lain. Menjadi sahabat yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar