“Pa.. Papa. Aku mau dibeliin scooter terbaru dong. Ayolah,pa. Please!” ucap Dino merengek pada papanya lewat telepon.
Dengan suara berat Papa, papa menjawab dengan tegas,
“Dino sayang, papa lagi sibuk. Nanti sepulang dari luar negeri papa langsung
beliin ya!”
“Tapi,Pa. Aku maunya sekarang. Papa yang beliin di
luar negeri. Teman-temanku udah punya semua. Ayolah! Papa baik deh!” Ucapnya
dengan merengek sekali lagi.
“Yaudah. Nanti papa suruh mama beliin buat kamu. Udah
dulu ya,Dino. Jangan lupa belajar dan jangan jadi anak nakal.”
“Iya pa! Siap! Makasih papa! Dadah..”
Tut tut tut. Suara telepon terputus. Dino pun langsung
berlari menuju teras rumah. Menunggu ketiga teman satu kelasnya yang kebetulan
tinggal satu kompleks dengannya. Sudah satu minggu ini Dino minta dibelikan
barang-barang yang selalu dipunyai oleh ketiga temannya itu. Bahkan ia ingin
selalu terlihat lebih hebat dari mereka.
Keesokan harinya, Scooter impian Dino sudah di tangan.
Ia mengendarainya ke sekolah.
“Hai,” sapa Dino pada ketiga temannya itu sambil
memarkirkan scooter barunya itu.
“Hai..” ucap ketiga temannya itu dengan kompak.
“Eh, lihat deh scooter Dino keren ya! Baru ya Din?
Beli di mana?” tiba-tiba Bimo bertanya, penasaran.
“Oh iya dong! Ini baru dibeliin papaku. Dari luar
negeri loh,” ucap Dino dengan sombong dan sedikit kebohongan. Padahal, scooter Dino itu
baru saja dibeliin mamanya di salah satu mall di kotanya.
“Wah! Keren banget!” ucap Niko memuji.
Dino hanya senyam-senyum sendiri. Hatinya kegirangan
mendengar ucapan Niko. Di dalam hatinya penuh dengan rasa bangga. Dia merasa
bahwa dia paling hebat.
“Kita boleh pinjam nggak,Din sepulang sekolah?” tanya
Revo ingin mencoba scooter keren itu.
“Hmm. Maaf ya.
Nggak boleh! Nanti scooterku rusak lagi..”ucap Dino dengan nada yang keras.
Mereka bertiga terlihat sangat kecewa. Mereka
meninggalkan Dino ke ruang kelas tanpa pamit. Bahkan dengan muka yang sangat
kecut.
“Huh dasar! Bisanya cuma pinjam! Sementara scooter
kalian yang butut itu ke mana sih? Nyusahin aja. Aku nggak butuh teman kayak
kalian,” rutuk Dino dalam hati.
Dia berjalan menuju kelas dengan bersungut-sungut.
Sesampai di depan kelas. Ia melihat teman-temannya
sedang berkerumun di salah satu meja.
“Ada apa sih ini? Kok ramai sekali?” tananya dalam
hati.
Dia mendekat ke meja itu.
“Eh, lagi pada ngapain sih?”
“Ini Din, Si Tito punya tablet baru,” jawab Bimo.
“Iya. Lebih keren dari scootermu! Haha!” ejek Revo
balas dendam yang tadi.
Hati Dino memanas. Dia semakin iri. Dia sudah berniat
minta dibelikan tablet yang lebih bagus dari punya Tito pada papanya.
Brak! Terdengar suara seseorang membanting pintu.
Dengan kesal, ia buang tas ke lantai dan bergegas menelpon papanya yang masih
di luar negeri.
“Hallo papa? Pa, aku mau dibeliin tablet kaya punya
Tito. Kalo bisa yang lebih bagus ya,pa! Please,pa! Aku janji kalo papa beliin ,
aku akan belajar lebih giat lagi.”
“Aduh. Dino kan baru dibeliin scooter kenapa minta
tablet? Buat apa?”
“Ah papa masa tega si kalo missal ada tugas di sekolah
dan aku harus browsing di internet gimana,pa?”ia terus mencoba dengan berbagai
cara agar berhasil mendapatkan tablet itu.
“Kan ada laptop sayang?”
“Aah. Laptop kan berat,pa. Masa aku harus bawa laptop
ke sekolah?”
“Ya sudah. Tapi kamu harus ingat. Jangan pernah lupa
belajar ya. Kalo sampai nilaimu turun. Akan papa minta lagi tabletnya.”
“Asyik! Papa baik banget deh! Makasih papa sayang! Oh
iya, papa kapan pulang sih? Dino kangen. Dino di rumah sendirian terus. Mama
kan juga sibuk sama pekerjaannya,Pa.” ucap Dino sedih.
Tanpa sempat mendapatkan jawaban telepon dari papa
sudah terputus.
“Kenapa papa tiba-tiba matiin teleponnya? Ah, mungkin
dia lagi sibuk banget. Yes! Yang penting aku bakalan punya tablet.” Ucapnya sambil
loncat-loncat kegirangan.
Dengan semangat yang meletup-letup. Dia berangkat ke
sekolah dengan membawa barang baru lagi. Niatnya hanya satu. Pamer.
Di kelas ia membuka perlahan-lahan tabletnya. Hingga
Niko mengetahuinya.
“Temen-temen, lihat deh tablet Dino baru!” ucap Niko
sambil menunjuk ke arah Dino.
Tiba-tiba seisi kelas menghampiri Dino ingin sekali
melihat tablet canggih itu.
“Din, tabletmu keren banget! Pasti lebih bagus dari
punya Tito deh,” ucap salah seorang teman , memuji.
“Ehem! Bisa jadi sih gitu. Ini kan dibeliin papaku di
luar negeri. Dari kualitasnya aja udah beda,” ucapnya menyombongkan diri.
“Eh! Awas jangan sampai ya kalian minta pinjam ke
Dino. Paling sama dia ngga dibolehin!” ucap Tito panas.
“Apa sih maksudmu,To?”
“Udahlah jangan sok baik. Aku lihat langsung kok waktu
kamu melarang Revo dkk buat pinjam scooter barumu itu. Paling tabletmu juga nggak
bakalan boleh dipinjem kan?”
“Huuuu!” terdengar sorakan dari seluruh kelas yang
tertuju pada Dino.
Dino hanya bisa tertunduk penuh rasa malu.
“Udahlah teman-teman.. Mungkin dia punya alasan
sendiri kenapa dia ngga mau minjemin ke kita. Mungkin memang dia takut kalo
misalnya dipinjem terus rusak kan yang dimarahin ortunya juga dia?” ucap Revo
membela Dino.
“Kamu apa-apaan si,Vo?Bikin aku tambah malu aja. Udah
nggak usah belain aku! ” ucapnya sambil berlari keluar kelas.
Ketika teman-temannya yang lain langsung pulang ke
rumah. Dino pergi ke taman kompleks terlebih dahulu. Di situ dia mengangis
tersedu-sedu. Dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Padahal semua barang yang
dia inginkan sudah dia dapatkan. Tapi, justeru hal itu tidak membuatnya bahagia
sama sekali. Ia merasa ada yang kurang. Apakah itu?
Ketika sore mulai tiba. Dino baru memutuskan untuk
pulang. Ketika sampai di depan lapangan kompleks dia berhenti sebentar. Dia
mengamati ketiga temannya yang sering dia sakiti. Yaitu Niko,Bimo, dan Revo.
“Mereka cuma main kejar-kejaran dan kelereng. Kenapa
mereka terlihat sangat bahagia ya?” Dia berpikir sangat keras.
Setelah begitu lama dia mengamati ketiga temannya itu,
akhirnya ia menemukan jawabannya. Dia akhirnya berlari sangat kencang menuju
rumahnya. Tanpa menaruh peralatan sekolahnya terlebih dahulu. Ia bersegera
menelepon papanya.
Tapi sayang, papanya tidak menjawab. Dino masih sabar
menunggu jawaban sampai dia tak sadar bahwa air matanya telah jatuh.
“Aku mau teman,Pa. Aku kesepian. Pa tolong aku! Aku
butuh teman!”
Masih tidak ada jawaban dari seberang. Doni sadar
tidak semua yang dibutuhkannya selalu bisa dibeli dengan uang. Sambil menangis
akhirnya Doni kembali berlari menuju lapangan.
Betapa leganya ia ketika ia mendapati ketiga temannya
itu masih berada di sana.
Dia berlari menghampiri Revo dan memeluknya erat.
“Revo, maafin aku ya. Aku ngaku aku salah. Maaf udah
ngecewain kamu. Sekarang aku sadar, kalo aku cuma butuh teman.”
“Aku juga minta maaf ya sama kalian berdua. Apa kalian
mau masih jadi temanku?” ucapnya dengan penuh pengharapan.
“Iya nggak apa kok,Din. Kita ngerti. Aku juga minta
maaf ya. Aku sering bikin kamu kesel,” ucap Revo.
“Iya Din. Aku mau kok. Bahkan kita bisa jadi sahabat
kan?”
“Iya betul tuh. Sahabat. Selalu ada di saat suka
maupun duka.”
“Makasih ya teman-teman. Aku sayang kalian.”
Mereka bertiga memeluk Dino erat. Mereka berjanji di
dalam hati masing-masing untuk selalu menjaga dan memahami satu sama lain.
Menjadi sahabat yang sesungguhnya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar