Minggu, 31 Januari 2016

He?



Credit to owner. Source: google.com


He?

His charming is like sunshine in the winter
Bring extra warmth into my deepest heart
Even though he is the ice himself
Sometimes alter the warmth into cold
And touch, froze my heart
Into a fragile ice flake
In order to easily broke it
Oh wait! I made a mistake!
My lovable sunshine ?
Nope! The brilliant witch he is!
He spells weird spells du bi du ba du du
To control my heart!
He flies me high up to the milky way
Suddenly he brings me down to the ground
Ah I do hate him!
No! I make a mistake either
 I do fall for him actually!
How can?
God always give big temptation in the morning
His spherical eyes shining beyond the sun
Lit wet firework in my heart!
Look! He got perfect lips!
The sexy torn apart lips tempts me
I could not bear ignoring this temptation
Oh God! So sorry for this sweetest sin ever!
So, who is he actually?
I don’t know!
I just realize that he is a DOPE!
Truly DOPE!
I couldn’t live without a DOPE!
-Rahay-

Kamis, 28 Januari 2016

Aurelia si Duyung Cantik




Dari kejauhan mata, terlihat Aurelia si Putri Duyung Cantik yang tengah dikelilingi beberapa warga hutan. Di antara warga hutan itu terdapat Bibi Popo beruang yang pandai memasak dan Owla si Burung Hantu yang cerdas dan bijaksana. Ternyata, mereka semua sedang mengamati Aurelia yang sedang membuat perhiasan dari mutiara yang cantik-cantik. Ya, mereka semua sangat menyukai Aurelia karena ia cantik dan juga pandai membuat perhiasan-perhiasan yang sangat indah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Greeny si Peri Hutan yang bertugas menjaga hutan agar hutan tetap cantik dan asri. Greeny tidak menyukai Aurelia dan menganggapnya hanya bisa pamer kelebihan saja. Ia juga ingin terlihat lebih hebat dari Aurelia.
Di atas rumah pohon miliknya, Greeny berulang kali mengayun-ayunkan kaki sambil mencari ide untuk menjadi lebih hebat dari Aurelia dan membuat para warga tidak menyukai Aurelia lagi.
“Aha! Aku punya ide!” ucapnya sambil melonjak kegirangan. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas terbang menuju pemukiman warga hutan.
Saat ia melewati sungai sebening kaca tempat tinggal Aurelia, ia tersenyum licik sambil terus terbang menuju pemukiman warga hutan. Bau wangi Kue Pie Bibi Popo Beruang yang lezat menggoda Greeny untuk singgah ke rumahnya. Dengan sengaja ia melongok dari luar jendela Bibi Popo hingga membuatnya terkejut.
“Eh Ada Greeny! Kamu usil sekali ya bikin saya kaget saja!”  ucap Bibi Popo agak bersungut-sungut. “Ada apa memangnya kamu kemari?” ucapnya menambahkan.
“Hmm, itu anu..Anu Ini.. Anu..”
“Yang jelas dong kalau bicara. Jangan anu anu saja.”
“Itu loh Bi. Si Aurelia itu tidak sebaik yang kita kira lo!”
“Hush! Jangan begitu. Memangnya kamu tahu apa tentang dia?”
“Bibi tahu tidak mutiara yang sering Aurelia pakai untuk membuat perhiasan? Itu hasil mencuri dari Raja Neptunus! Mana mungkin sih seorang Aurelia punya mutiara yang sungguh luar biasa indah?” ucap Greeny berusaha meyakinkan.
“ Ah masa sih! Bibi masih nggak percaya ah!” ucap Bibi Popo sambil melanjutkan memasak. Kemudian Greeny terbang menuju rumah warga hutan yang lainnya. Kali ini sasaran selanjutnya adalah Owla. Ia sengaja mendatangi mereka berdua terlebih dahulu karena Bibi Popo dan Owla lah yang paling mengagumi Aurelia dan selalu membangga-banggakannya di depan para warga.
“Halo Owla!” sapa Greeny pada Owla yang sedang asyik membaca buku pengetahuan.
“Hai. Ada apa Greeny berkunjung ke sini?” tanya Owla dengan senyum yang renyah.
“Itu. Owla sudah tahu belum?”
“Tahu tentang apa memangnya?” selidik Owla.
“Tentang Aurelia. Aku dengar kalau mutiara yang Aurelia punya itu hasil mencuri dari Raja Neptunus! Aku tahu benar kalau mutiara seindah itu hanya dimiliki oleh orang-orang penting saja seperti Raja Neptunus!”
“Hah? Mana mungkin? Aurelia kan sangat baik. Sepertinya tidak mungkin ia berbuat hal seperti itu. Dan sebaiknya kamu jangan berburuk sangka terlebih dahulu,” ucap Owla keheranan.  
Tiba-tiba Momo Monkey si biang gossip datang mendekat. “Halo! Halo! Berjumpa lagi dengan Momo. Kalian sudah tahu belum? Berita tentang Aurelia yang pernah mencuri di tempat Raja Neptunus itu sudah menyebar ke seluruh hutan lo!” jelas Momo panjang lebar sambil cengengesan.  
Mendengar kalimat Momo barusan membuat hati Greeny amat bahagia. Diam-diam ia senyum-senyum sendiri. Kemudian, ia meluncur menuju pinggir hutan untuk menjalankan ide keduanya membuat warga hutan bangga padanya.
Sampailah ia di taman bunga Kristal yang sungguh indah. Sejauh mata memandang terhampar bunga berwarna-warni seperti lollipop yang berkelap-kelip ditempa cahaya matahari. Dengan bubuk ajaibnya, ia menyulap semua bunga Kristal itu menjadi berbagai perhiasan yang sungguh menawan sambil menyanyi kegirangan.
“Syalala. Dubidam.. Perhiasanku lebih cantik darinya. La la laaa..”
Kemudian, ia terbang ke balai hutan untuk mengumumkan bahwa ia juga mempunyai perhiasan yang indah-indah melebihi milik Aurelia. Semua warga hutan terkejut. Semuanya bersorak-sorai kegirangan melihat perhiasaan yang sungguh indah dan banyak itu. Satu-persatu warga hutan menyalami Greeny dan melontarkan berbagai macam pujian.
Tentunya Greeny puas dan pulang dengan hati yang mengembang penuh kebahagiaan. Namun, ia lupa satu hal. Bunga Kristal yang ia jadikan perhiasan itu merupakan tumbuhan penyeimbang hutan. Jika tumbuhan itu dibabat habis maka akan timbul bencana bagi hutan. Ya, benar saja. Malam harinya, ketika semua warga hutan terlelap dalam tidur. Banjir bandang mahadahsyat menyapu seluruh hutan. Beruntung, ada Owla yang masih terbangun tengah malam dan melihat tanda-tanda akan terjadi banjir sebelumnya. Kemudian, dengan gesit Owla terbang memberi pengumuman kepada seluruh warga bahwa akan ada banjir bandang dan menyuruh mereka segera menyelamatkan diri. Namun sayang, saat itu Greeny benar-benar tidur dengan sangat pulas sehingga ia tidak mendengar peringatan dari Owla. Air banjir yang kotor perlahan memasuki rumah pohon Greeny. Merasakan hawa dinginnya air, ia terkejut bukan main. Ia merasa ketakutan ketika air itu membasahi hampir setengah bagian dari tubuhnya sebelum ia sempat terbang melarikan diri.
Aurelia yang mendengar berita itu membantu beberapa warga yang tidak bisa berenang dan tidak mempunyai perahu menuju tempat yang lebih aman. Dan ia pun melihat Greeny mengapung tak sadarkan diri terseret arus air. Dengan sigap ia menolong Greeny meski ia tahu bahwa Greeny telah membuat berita bohong tentang dirinya.
Keesokan harinya, ketika air banjir sudah surut dan keadaan warga sudah mulai membaik. Semua warga hutan berkumpul di balai hutan membahas tentang bencana banjir ini.
“Baiklah. Terima kasih kalian semua warga hutanku yang tercinta sudah mau berkumpul di tempat ini,” ucap Lio Raja Hutan.
“Ehem! Adakah di antara kalian yang tahu mengapa banjir bisa terjadi?” ucap Lio melanjutkan.
“Setahuku yang menyebabkan banjir adalah hilangnya Bunga Kristal penyeimbang hutan atau kemungkinan kedua adalah perilaku warga hutan yang tidak baik dengan membuang sampah sembarangan ke sungai sebening kaca,” jelas Owla menganalisa.
Warga hutan lain saling tatap dan berbisik. Tiba-tiba Momo Monkey ikut ambil bagian untuk berbicara.
“Halo! Halo! Bertemu lagi dengan Momo. Oh iya, kemarin Momo melihat Greeny sedang memetik banyak sekali Bunga Kristal di taman,lo!”
Semua warga hutan benar-benar terkejut. Timbul suara gaduh karena mereka semua menyalahkan Greeny atas semua ini. Ya, karena Greeny seharusnya yang menjaga hutan tetap asri dan lestari.
“Betulkah itu yang dikatakan Momo, Greeny? Jawab jujur!” perintah Lio.
Kemudian, Greeny terbang mendekat ke tengah kerumunan warga.
“M..m.ma-af. Maafkan saya semuanya. Saya benar-benar menyesal melakukan semua ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan saya yang akan bertanggung jawab memperbaiki kondisi hutan menjadi seperti semula,” ucap Greeny sambil menitikkan air mata.
“Baiklah. Meskipun kesalahanmu cukup besar. Namun, kami tetap harus memaafkanmu. Asalkan kamu harus benar-benar berubah!” titah Lio.
“Iya betul itu,Greeny. Kamu juga harus meminta maaf kepada Aurelia dan berterimakasih padanya. Karena asal kamu tahu saja Aurelia-lah yang menolongmu tadi malam,” ucap Bibi Popo Beruang.
Setelah meminta maaf dib alai Hutan, Greeny segera terbang menuju rumah pohon untuk mengambil bibit Bunga Kristal. Namun sayang, bibitnya habis. Ia harus melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk membelinya. Kemudian, ia teringat suatu hal. Ia bersegera terbang menuju sungai sebening kaca.
“Hai Greeny!” panggil Bibi Popo Beruang.
“Iya bi. Ada apa?” ucap Greeny sambil terbang menghampiri Bibi Popo.
“Ini aku buatkan Kue Pie yang teristimewa untuk Aurelia. Aku tahu kau pasti akan ke sana jadi kubuatkan ini sebagai tanda terimakasih dari para warga untuknya yang telah menolong kami.”
“Wah. Bibi baik sekali. Terimakasih ya,Bi. Nanti aku sampaikan ucapan terimakasih kalian padanya,ya,” ucapnya dengan senyuman yang sangat tulus.
Terlihat Aurelia yang sedang asyik bermain air. Greeny menghampirinya.
“Hai Aurel,” sapa Greeny diikuti dengan senyum yang sangat menghangatkan.
“Hai Greeny!” ucap Aurel sambil melonjak kegirangan karena ia kedatangan tamu istimewa.
“Hmm.. Ini anu.. Itu anu. Aku datang ke sini untuk meminta maaf karena aku sempat iri terhadapmu hingga membuat berita bohong tentang dirimu. Maafkanlah aku Aurel. Aku sungguh menyesal,” ucap Greeny dengan penuh penyesalan.
“Tak apa sobat. Jangan bersedih hati lagi ya! Apakah yang membuat iri terhadapku? Bukankah engkau lebih hebat? Kau bisa terbang. Kau mempunyai ketulusan yang murni untuk menjaga hutan supaya tetap cantik. Kau luar biasa di mataku.”
“Kamu cantik,Aurel. Pandai pula membuat perhiasan yang begitu menawan. Aku merasa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu.”
Dengan senyuman tulus, Aurelia berkata,” Setiap insane di dunia ini pasti punya kelebihannya masing-masing. Dan itulah yang membuat diri mereka unik dan berbeda satu sama lain. Jadi, kamu tak perlu iri. Dan bukankah kecantikan hati lebih berharga dibandingkan kecantikan wajah?” ucap Aurelia meyakinkan.
Greeny tersenyum haru seraya memeluk Aurelia erat-erat.
“Terimakasih banyak Aurelia. Kamu memang luar biasa cantik luar dan dalam.”
“Sama-sama Greeny! Kita berdua sama-sama cantik kok. Hihi”
“Oh iya aku punya sesuatu untukmu. Ini ada kue pie buatan Bibi Popo yang paling istimewa yang pernah ia buat. Ia bilang kalau ini sebagai tanda terimakasih para warga karena kamu telah menolong para warga. Aku juga punya ini untukmu. Terimalah.”
“Wah terimakasih. Bukankah bubuk ajaib ini sangat berharga untukmu?”
“Tak apa Aurel. Aku masih punya buanyak! Hehe.”
“Sebagai tanda persahabatan kita. Aku punya hadiah untukmu. Semoga hadiahku ini dapat bermanfaat ya.”
Betapa terkejutnya ia saat membuka hadiah tersebut. Ternyata hadiah itu adalah Bunga Mutiara. Bunga Mutiara ini sama seperti Bunga Kristal yang dapat menjadi penyeimbang hutan. Aurelia ingin agar bunganya dapat menggantikan Bunga Kristal untuk sementara waktu sebelum Greeny membeli Bunga Kristal yang baru.
Disaksikan air terjun sebening kaca. Mereka resmi menjadi sahabat dan berjanji untuk bersama-sama bahu-membahu untuk merawat dan memelihara hutan supaya tetap asri dan lestari.
“Janji Jari kelingking!”
Mereka saling menautkan jari kelingking mereka masing-masing dan bersama-sama menikmati Kue Pie Bibi Popo yang sangat lezat tiada tandingannya!

Aku Mau Teman, Pa!





“Pa.. Papa. Aku mau dibeliin scooter terbaru dong. Ayolah,pa. Please!” ucap Dino merengek pada papanya lewat telepon.
Dengan suara berat Papa, papa menjawab dengan tegas, “Dino sayang, papa lagi sibuk. Nanti sepulang dari luar negeri papa langsung beliin ya!”
“Tapi,Pa. Aku maunya sekarang. Papa yang beliin di luar negeri. Teman-temanku udah punya semua. Ayolah! Papa baik deh!” Ucapnya dengan merengek sekali lagi.
“Yaudah. Nanti papa suruh mama beliin buat kamu. Udah dulu ya,Dino. Jangan lupa belajar dan jangan jadi anak nakal.”
“Iya pa! Siap! Makasih papa! Dadah..”
Tut tut tut. Suara telepon terputus. Dino pun langsung berlari menuju teras rumah. Menunggu ketiga teman satu kelasnya yang kebetulan tinggal satu kompleks dengannya. Sudah satu minggu ini Dino minta dibelikan barang-barang yang selalu dipunyai oleh ketiga temannya itu. Bahkan ia ingin selalu terlihat lebih hebat dari mereka.
Keesokan harinya, Scooter impian Dino sudah di tangan. Ia mengendarainya ke sekolah.
“Hai,” sapa Dino pada ketiga temannya itu sambil memarkirkan scooter barunya itu.
“Hai..” ucap ketiga temannya itu dengan kompak.
“Eh, lihat deh scooter Dino keren ya! Baru ya Din? Beli di mana?” tiba-tiba Bimo bertanya, penasaran.
“Oh iya dong! Ini baru dibeliin papaku. Dari luar negeri loh,” ucap Dino dengan sombong dan  sedikit kebohongan. Padahal, scooter Dino itu baru saja dibeliin mamanya di salah satu mall di kotanya.
“Wah! Keren banget!” ucap Niko memuji.
Dino hanya senyam-senyum sendiri. Hatinya kegirangan mendengar ucapan Niko. Di dalam hatinya penuh dengan rasa bangga. Dia merasa bahwa dia paling hebat.
“Kita boleh pinjam nggak,Din sepulang sekolah?” tanya Revo ingin mencoba scooter keren itu.
“Hmm. Maaf  ya. Nggak boleh! Nanti scooterku rusak lagi..”ucap Dino dengan nada yang keras.
Mereka bertiga terlihat sangat kecewa. Mereka meninggalkan Dino ke ruang kelas tanpa pamit. Bahkan dengan muka yang sangat kecut.
“Huh dasar! Bisanya cuma pinjam! Sementara scooter kalian yang butut itu ke mana sih? Nyusahin aja. Aku nggak butuh teman kayak kalian,” rutuk Dino dalam hati.
Dia berjalan menuju kelas dengan bersungut-sungut.
Sesampai di depan kelas. Ia melihat teman-temannya sedang berkerumun di salah satu meja.
“Ada apa sih ini? Kok ramai sekali?” tananya dalam hati.
Dia mendekat ke meja itu.
“Eh, lagi pada ngapain sih?”
“Ini Din, Si Tito punya tablet baru,” jawab Bimo.
“Iya. Lebih keren dari scootermu! Haha!” ejek Revo balas dendam yang tadi.
Hati Dino memanas. Dia semakin iri. Dia sudah berniat minta dibelikan tablet yang lebih bagus dari punya Tito pada papanya.
Brak! Terdengar suara seseorang membanting pintu. Dengan kesal, ia buang tas ke lantai dan bergegas menelpon papanya yang masih di luar negeri.
“Hallo papa? Pa, aku mau dibeliin tablet kaya punya Tito. Kalo bisa yang lebih bagus ya,pa! Please,pa! Aku janji kalo papa beliin , aku akan belajar lebih giat lagi.”
“Aduh. Dino kan baru dibeliin scooter kenapa minta tablet? Buat apa?”
“Ah papa masa tega si kalo missal ada tugas di sekolah dan aku harus browsing di internet gimana,pa?”ia terus mencoba dengan berbagai cara agar berhasil mendapatkan tablet itu.
“Kan ada laptop sayang?”
“Aah. Laptop kan berat,pa. Masa aku harus bawa laptop ke sekolah?”
“Ya sudah. Tapi kamu harus ingat. Jangan pernah lupa belajar ya. Kalo sampai nilaimu turun. Akan papa minta lagi tabletnya.”
“Asyik! Papa baik banget deh! Makasih papa sayang! Oh iya, papa kapan pulang sih? Dino kangen. Dino di rumah sendirian terus. Mama kan juga sibuk sama pekerjaannya,Pa.” ucap Dino sedih.
Tanpa sempat mendapatkan jawaban telepon dari papa sudah terputus.
“Kenapa papa tiba-tiba matiin teleponnya? Ah, mungkin dia lagi sibuk banget. Yes! Yang penting aku bakalan punya tablet.” Ucapnya sambil loncat-loncat kegirangan.
Dengan semangat yang meletup-letup. Dia berangkat ke sekolah dengan membawa barang baru lagi. Niatnya hanya satu. Pamer.
Di kelas ia membuka perlahan-lahan tabletnya. Hingga Niko mengetahuinya.
“Temen-temen, lihat deh tablet Dino baru!” ucap Niko sambil menunjuk ke arah Dino.
Tiba-tiba seisi kelas menghampiri Dino ingin sekali melihat tablet canggih itu.
“Din, tabletmu keren banget! Pasti lebih bagus dari punya Tito deh,” ucap salah seorang teman , memuji.
“Ehem! Bisa jadi sih gitu. Ini kan dibeliin papaku di luar negeri. Dari kualitasnya aja udah beda,” ucapnya menyombongkan diri.
“Eh! Awas jangan sampai ya kalian minta pinjam ke Dino. Paling sama dia ngga dibolehin!” ucap Tito panas.
“Apa sih maksudmu,To?”
“Udahlah jangan sok baik. Aku lihat langsung kok waktu kamu melarang Revo dkk buat pinjam scooter barumu itu. Paling tabletmu juga nggak bakalan boleh dipinjem kan?”
“Huuuu!” terdengar sorakan dari seluruh kelas yang tertuju pada Dino.
Dino hanya bisa tertunduk penuh rasa malu.
“Udahlah teman-teman.. Mungkin dia punya alasan sendiri kenapa dia ngga mau minjemin ke kita. Mungkin memang dia takut kalo misalnya dipinjem terus rusak kan yang dimarahin ortunya juga dia?” ucap Revo membela Dino.
“Kamu apa-apaan si,Vo?Bikin aku tambah malu aja. Udah nggak usah belain aku! ” ucapnya sambil berlari keluar kelas.
Ketika teman-temannya yang lain langsung pulang ke rumah. Dino pergi ke taman kompleks terlebih dahulu. Di situ dia mengangis tersedu-sedu. Dia merasa ada yang aneh pada dirinya. Padahal semua barang yang dia inginkan sudah dia dapatkan. Tapi, justeru hal itu tidak membuatnya bahagia sama sekali. Ia merasa ada yang kurang. Apakah itu?
Ketika sore mulai tiba. Dino baru memutuskan untuk pulang. Ketika sampai di depan lapangan kompleks dia berhenti sebentar. Dia mengamati ketiga temannya yang sering dia sakiti. Yaitu Niko,Bimo, dan Revo.
“Mereka cuma main kejar-kejaran dan kelereng. Kenapa mereka terlihat sangat bahagia ya?” Dia berpikir sangat keras.
Setelah begitu lama dia mengamati ketiga temannya itu, akhirnya ia menemukan jawabannya. Dia akhirnya berlari sangat kencang menuju rumahnya. Tanpa menaruh peralatan sekolahnya terlebih dahulu. Ia bersegera menelepon papanya.
Tapi sayang, papanya tidak menjawab. Dino masih sabar menunggu jawaban sampai dia tak sadar bahwa air matanya telah jatuh.
“Aku mau teman,Pa. Aku kesepian. Pa tolong aku! Aku butuh teman!”
Masih tidak ada jawaban dari seberang. Doni sadar tidak semua yang dibutuhkannya selalu bisa dibeli dengan uang. Sambil menangis akhirnya Doni kembali berlari menuju lapangan.
Betapa leganya ia ketika ia mendapati ketiga temannya itu masih berada di sana.
Dia berlari menghampiri Revo dan memeluknya erat.
“Revo, maafin aku ya. Aku ngaku aku salah. Maaf udah ngecewain kamu. Sekarang aku sadar, kalo aku cuma butuh teman.”
“Aku juga minta maaf ya sama kalian berdua. Apa kalian mau masih jadi temanku?” ucapnya dengan penuh pengharapan.
“Iya nggak apa kok,Din. Kita ngerti. Aku juga minta maaf ya. Aku sering bikin kamu kesel,” ucap Revo.
“Iya Din. Aku mau kok. Bahkan kita bisa jadi sahabat kan?”
“Iya betul tuh. Sahabat. Selalu ada di saat suka maupun duka.”
“Makasih ya teman-teman. Aku sayang kalian.”
Mereka bertiga memeluk Dino erat. Mereka berjanji di dalam hati masing-masing untuk selalu menjaga dan memahami satu sama lain. Menjadi sahabat yang sesungguhnya.