Jumat, 06 Mei 2016

Rindu Langit Biru



Rindu Langit Biru
Aku terbangun di tempat yang asing. Kulempar pandangan ke sekelilingku. Hanya ada kepulan asap yang membumbung tinggi meninggalkan puing yang berserakan. Tiba-tiba. Buum! Terdengar suara dentuman mahadahsyat menghujam bumi yang tak hanya memekakan telinga namun juga berhasil mencabik dasar hati. Terlihat jelas di antara dua menara yang menjulang itu api yang semakin liar. Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi? Setelahnya, banyak sekali manusia yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri . Terdengar pula teriakan-teriakan penuh ketakutan. Kemudian, sudut mataku menangkap sesosok gadis yang keluar dari kepulan asap tebal. Kulihat gadis itu terjatuh. Sontak aku berlari menghampirinya.
“Maaf, kau tak apa?” tanyaku seraya membantunya bangun.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya singkat namun syarat kepedihan yang mendalam.
“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kota ini?” tanyaku lagi dengan hati-hati.
Gadis itu mendongak ke atas. Seolah meminta penjelasan pada Sang Khalik. Lalu, ia menatapku lekat, seraya berkata, “Entahlah. Satu yang pasti aku rindu langit biru.”
“Apa maksudmu? Aku semakin tak mengerti.”
Ia menunjuk ke atas. Ya, hanya ada kelabu. Langit kelabu penuh dengan duka. Di pipiku mulai turun gerimis. Aku tak sanggup melihat keadaan kota ini,Tuhan.
Kulihat kembali sekelilingku. Apakah tak ada tempat yang aman untuk mereka? Gadis itu seolah dapat membaca pikiranku, ia tiba-tiba saja berkata, “Mungkin tak ada tempat aman di sini. Namun, setidaknya aku tahu tempat yang layak untuk kami. Ayo ikut aku.”
Perlahan kupapah gadis itu sambil mengamati sekitar. Astaga! Aku seperti tersandung sesuatu. Apakah benar ini mayat?  Ya Tuhan aku benar-benar tak sanggup harus menonton potongan kejadian ini.
Aku menatap gadis itu. Mengharapkan penjelasan.
“Ya, setiap hari pasti ada korban. Tinggal menunggu saja kapan giliran kita,” ucapnya sinis.
“Kau tak boleh bicara seperti itu! Kau seperti tidak terima dengan takdir Tuhan.”
“Ya! Aku memang tidak pernah bisa menerimanya. Karenanya ayah dan ibuku terenggut oleh kebiadaban manusia-manusia di seberang tembok tebal pembatas itu dan juga merenggut langit biru milik kami,” ucapnya dengan dikuasai kemarahan. Tanpa mempedulikanku dia berlari dengan sisa tenaganya ke sebuah tenda pengungsian. Akhirnya, aku sampai juga di tempat yang ia maksud. Terimakasih Tuhan.
Kubuka perlahan tenda itu. Syukurlah. Aku lega karena kelabu tak menyelimuti tempat ini juga. Ada banyak anak yang sedang bermain dengan riang. Namun, dibalik tawa mereka tersembunyi kekhawatiran mendalam. Tapi, aku salut dengan ketabahan dan kesabaran mereka menghadapi ini. Namun, kudapati seorang anak yang terlihat berbeda. Kudekati ia.“Hai anak manis. Siapa namamu?”
ia tak menjawab. Hanya menoleh sebentar ke arahku kemudian kembali menoleh ke luar. Seperti sedang menunggu sesuatu.
Aku kembali mencoba bertanya, “Kau kenapa tak ikut bermain dengan yang lain?”
Dia masih tetap membisu. Kali ini ia justeru pergi meninggalkanku begitu saja. Ya Tuhan! Ternyata ia tak mempunyai tangan kanan. Di depan tenda ia bersimpuh menengadahkan satu tangannya juga menundukkan kepalanya. Berdoa dengan takzimnya. Dari air wajahnya tergambar jelas pengharapan akan hari esok yang lebih baik. Cahaya senja membasuh bocah itu. Seolah ikut mengamini lantunan doanya.
***
Kuputuskan untuk kembali ke dalam tenda. Mereka hanya berteman cahaya lilin. Asyiknya belajar berhitung dan membaca cerita menjadi pelipur lara. Dan ya!  Bocah berbeda itu lagi-lagi sedang menatap ke luar jendela. Tapi, kali ini tangan kirinya menggenggam sebuah pensil dan tergeletak sebuah kertas di depannya. Kusapa ia, “Hai. Masih ingat aku? Masihkah boleh kutahu namamu?”
Dia masih saja diam dan terburu-buru menyembunyikan kertas tadi. Kemudian, bergegas meninggalkanku. Penasaran. Kucoba mencari yang ia sembunyikan. Kutemukan banyak sekali kertas berisi penuh tulisan. Kubaca beberapa. Merinding dan lemas. Aku tersungkur. Ingin menangis tapi telaga tangisku telah kering dan  menyisakan sesak. Malu rasanya menjadi dewasa namun masih kenak-kanakan. Di sudut bawah kertas itu tertulis rapi sebuah nama. Aisyah.
***
Bodoh sekali diriku dulu sempat ingin bunuh diri. Terimakasih Tuhan aku masih diberi kesempatan untuk hidup hari ini.  Kurasa hari ini lebih baik. Sudah tak ada dentuman-dentuman itu. Hanya saja kelabu masih membungkus langit. Aku mencoba mencari gadis yang kutemui tempo hari. Tek sengaja, aku melihatnya berjala pelan menyeret sebuah pedang yang menorehkan jejak di sepanjang jalanan ini. Aku ikuti dia terus hingga sampai di depan tembok pembatas. Sambil menghadap tembok, ia ancang-ancang menghujamkan pedang ke arah perutnya. Astaga! Mungkinkah ia akan bunuh diri?
“Heeey! Berhenti!” Aku berlari sekencang mungkin dan berusaha mengahalaunya. “Hey kau gadis belia! Apa sebenarnya yang ada di kepalamu hah? Ini kah caramu menyelesaikan masalah? Bodoh kau!” ucapku naik pitam.
“Aku tak butuh nasihatmu! Dan untuk apa aku hidup jika akhirnya harus mati dengan keji di tangan para biadab itu hah?!” ucapnya dengan mencoba menghujamkan pedangnya lagi.
Dengan sekuat tenaga kurebut dan kubuang pedang itu jauh-jauh.“Hey! Asal kau tahu ada seseorang yang selalu mendoakanmu yang terbaik di setiap sujudnya meski hatinya perih!”
Tanpa basa-basi aku berikan kertas milik Aisyah kepadanya. Lalu, dia baca dengan seksama. Tangisnya pecah dan ia jatuh bersimpuh. Menyadari semuanya. Terlukis sebuah senyum penuh rasa syukur dan pengharapan yang besar. Digenggam dengan erat kertas milik adiknya itu.
***
Mataku terbuka. Silau rasanya melihat lampu yang menggantung di atas kepalaku. Kudapati selang-selang saling tumpang tindih menopang tubuhku. Kulihat ibu sedang menggenggam erat tanganku. “Syukurlah. Terimakasih Tuhan. Akhirnya kau sadar juga Annisa,” ucap ibu seraya menangis bahagia.
“Sebenarnya apa yang terjadi ibu?”
“Ceritanya panjang,Nak. Tapi satu yang pasti ibu bangga padamu karena kamu berani mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkan orang lain. Oh iya, ibu menemukan ini di sakumu.” Ibu memberikan kertas kumal kepadaku.
Kubuka perlahan kertas itu dan kubaca dengan lekat setiap aksaranya:
“Tuhan, maafkan aku yang sering lalai kepadaMu. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu? Mungkin aku tidak bisa meminta ayah ibuku atau tanganku kembali. Tapi, tolong kembalikan langit biru untuk kakak dan tanah airku. Jaga dia dan berikan selalu yang terbaik untuknya. Berikanlah kecantikan hati agar ia dapat menjadi penyejuk di tanah air tercinta yang kini gersang kedamaian. Aku ikhlas jika harus membayar dengan jiwaku,Tuhan. AISYAH.” Kutatap langit biru tanah airku. Menggambarkan kemerdekaan yang sesungguhnya. Penuh kedaimaian. Semoga aku dapat menjaga langit tanah air ini tetap biru selamanya. Semoga.