Selasa, 24 April 2018

Kuliah Sastra Mau Jadi Apa? (New Version)


Kuliah Sastra Mau Jadi Apa?

Salam budaya!
 
If you ever read my writing with the same title, you will know the whole content. But here, I decide to rewrite several points because at that moment this writing attract pros and cons. Then, I ended up to be verbally bullied by several BOYS at that time. Jadi, aku akan menulis ulang dengan versi yang ‘tidak menyudutkan’ pihak tertentu.
So, buat kalian new readers mungkin bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan tulisan saya sehingga menimbulkan cukup kontroversi di antara mahasiswa FIB khususnya mereka para penggerak kampus. Jadi, waktu itu, ada seseorang mahasiwa yang mengkritik pihak kampus karena suatu hal dan kemudian saya mencoba merespons tulisan tersebut. Respon saya murni karena satu kalimat yang menurut saya memberikan kesan bahwa anak-anak sastra kurang punya prospektif yang bagus di dunia karier. Namun, mungkin karena keteledoran saya saat itu yang juga menyinggung tentang hal lain dari tulisannya itu, kemudian muncullah beberapa teman-teman si penulis yang menganggap saya mahasiswi apatis yang tidak peduli untuk mengkritisi birokrat dan “HANYA PAMER PRESTASI” melalui tulisan saya. Mereka menganggap saya sebagai mahasiswi bodoh yang Cuma doyan pamer. Hehe To be honest, you guys are more brave than me. YOU GUYS ARE MORE GREAT THAN ME. Yups, I am just stupid little girl who would like to whisper to entire faculty that we could support the faculty in many ways. One of the ways is like mine. With achievements. With exploring ourselves more. Perlu digaris bawahi bahwa saya tidak pernah berkata bahwa saya tidak suka dengan hal-hal berbau demo dan mengkritisi birokrat, saya justeru mengacungi jempol karena keberanian dan kepedulian mereka terhadap almamater mereka. Saya sangat menghargai itu. TAPI. Dapatkah mereka memberi masukan, nasihat dan kritik dengan kalimat yang santun? Jujur saja saya merasa tertekan dengan komentar-komentar dengan nada mengejek tersebut. Entahlah, entah apa tujuan mereka  pada saat itu. But, sadly, I consider it as verbal bullying. I was hurt back then. That’s why I didn’t reply all of the comments. Di sini kita harus benar-benar aware dengan kata-kata kita. Terkadang ucapan atau kata-kata kita di media sosial yang menurut kita merupakan sebuah kritikan atau hanya bahan candaan semata belum tentu seseorang yang diberi perlakuan seperti itu menganggapnya biasa saja. Moreover, I was totally shocked when there was a famous  influencer a.k.a leader in campus commented in my writing in such “rude” way. I was totally sad at that time. So, dear brother, could you please give comments or criticism in a good manner? In a polite way? To build and remind the persons not to mock them. BE AWARE: VERBAL BULLYING IS REAL. Please pay attention on your words cos we never know someone will be hurt or not :’)
Ah, sudah. Intinya, aku sudah memaafkan hal itu. Then, this stupid little girl also would like to deliver deep apologize if in my writing, I also ever hurt them, my fellow brother. So, this is it new revision of Kuliah Sastra Mau Jadi Apa. Jadi, perlu digaris bawahi juga, kalau tulisanku kali ini bukan lagi merespons tulisan seseorang itu tetapi semata-mata sebagai informasi dan motivasi bagi mereka yang berkuliah di jurusan yang masih terbilang under rated dan sering diremehkan banyak orang.
Happy reading guys! Hopefully you guys could get something from here ^^
KULIAH SASTRA MAU JADI APA?
Bagi kalian yang berada di jurusan sastra, pertanyaan seperti itu sudah sangat familiar di telinga kalian,bukan? Tetangga kita,orang tua sampai our number one support system sometimes ask the same questions repeatedly. Yups bukan hanya pertanyaan tersebut yang sering mondar-mandir di telinga kita. Bahkan, kita sendiri yang memilih atau terpaksa bergulat dengan jurusan ini, pasti pernah merasakan hal yang sama dan sedikit merasakan kekhawatiran akan masa depan karier kita. But hey, hal itu mungkin sudah tidak terlalu dipikirkan oleh mahasiswa dan mahasiswi jurusan sastra yang sudah merasakan bahagianya kuliah di jurusan sastra dan tidak lagi khawatir akan masa depan mereka. Lantas, bagaimana dengan para mahasiswa baru yang masih butuh bimbingan dan contoh yang nyata? Pertanyaan itu masih dapat mengusik pikiran mereka.
Ketika ada orang yang bertanya, “KULIAH SASTRA MAU JADI APA?”
Stay cool, sweetheart! Allah always gives the way! There is nothing imposibble if We be with Allah J



Dear fellow friend,
Seperti yang sudah aku sebutkan di atas sampai harus aku capslock karena saking gemas dan sedihnya. Kalau aku yang ditanya seperti itu, aku akan dengan mantabbb dan bangga menjawab: “BANYAK”. Karena aku sendiri sebagai mahasiswa sastra itu dengan senang hati tanpa paksaan apapun masuk sastra karena aku tahu jurusan aku ini layaknya jalan yang menghubungkan kehidupanku saat ini dengan semua mimpiku. Buktinya saja, selama aku berada di jurusan ini, aku merasa bahagia karena ada banyak sekali hal yang berguna yang saya dapatkan mulai dari bagaimana menjadi orang yang lebih peduli kepada teman-teman, dosen-dosen hebat yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan tentang “My future job” serta bagaimana melihat suatu fenomena tidak hanya dari satu sisi saja, namun melihatnya dari sudut pandang lain, yang menurut aku hal itu yang menjadikan kami mahasiswa sastra bisa lebih bijak dalam menanggapi suatu hal.  
Then, I actually don’t want to show what I’ve reached so far in my beloved major. Takut ada yang bilang, “Ah baru segitu aja udah jumawa”. Oh sweetheart, I don’t care anymore. If you don’t like me and my writing, IT’S ABSOLUTELY YOUR PROBLEM NOT MINE <3 Di sini, demi adik-adikku tercinta yang baru akan memulai dunia kampusnya dengan bingung, saya akan berbagi pengalaman yang sudah aku dapatkan selama berkuliah di jurusan sastra ini. And, to avoid the same perspective that say I just inform the world my achievements, so here I also will give several Role Model of mine who really inspire me as well as PROVES study literature doesn’t mean your world ended up quickly. ^^

Dearest brother and sister,
Don’t feel that you are alone and lost. Karena kakak-kakak senior dan dosenmu akan dengan senang hati memotivasimu agar mimpi-mimpimu itu akan mekar dengan indah di masa depan. Kalian masih saja bingung, di hari esok akan menjadi apa? Don’t worry, sweetheart. Ada banyak sekali kakak-kakak senior kalian yang sudah lulus bekerja di berbagai bidang dan instansi. Kerja di Bank? Bisa. Kerja di Kemenlu? Jelas bisa. Jadi dosen kece? Jangan ditanya. Jadi translator tingkat internasional dengan fee perkata? Uh itu sih yes. Jadi staff Kepresidenan? Bisa banget. J Jadi, apa yang masih membuatmu bingung adik-adikku? Satu yang pasti, agar mimpi itu bisa kau capai. Terus istiqomah, lakukan semuanya dengan sepenuh hati dan terus ukir prestasi untuk dirimu, keluargamu, jurusanmu, almamatermu dan tanah airmu :)
Untuk lebih meyakinkanmu lagi, saya akan berbagi pengalaman saya selama saya menjadi mahasiswi jurusan sastra. Jika kalian mau terus belajar dan berprestasi, maka tawaran pekerjaan itulah yang akan datang kepada kalian sebelum kalian lulus. Contohnya? Saya yang notabene mahasiswa biasa-biasa ini saja beberapa kali Alhamdulillah diberikan kesempatan dan rezeki oleh Allah untuk menjadi translator, coach, dan instructor. Coba bayangkan jika saya mahasiswa biasa-biasa ini saja bisa, bagaimana kalian yang penuh potensi? Bisa dibayangkan? Hehe Kalian bisa lebih keren dari senior-senior kalian :) Bahkan, ketika banyak orang meremehkan saya karena “hanya bermodal bahasa inggris” saja katanya, alhamdulillah karena hal itu pula saya sudah pernah menginjakkan kaki di negeri orang untuk mengikuti pertukaran pelajar. Bagaimana dengan kalian? Insya Allah ada banyak kejutan yang Allah akan berikan pada kalian jika kalian serius terhadap apa yang kalian jalani, saling memotivasi satu sama lain, mengukir prestasi dan melukiskan senyuman bangga di wajah orang tua, bangsa dan negara kalian. Terlepas dari pekerjaan apa yang dapat kalian dapatkan, di atas semuanya kalian akan mendapatkan hal luar biasa lain menjadi anak sastra yaitu kelembutan hati, kesabaran dan proses yang menyenangkan untuk mendewasakan diri kalian dan menjadi berguna bagi lingkungan kalian.
Now, it is time to tell about my role models. All of them I call as “superwoman” in their own unique way. Sosok wanita hebat pertama yang kuliah di jurusan yang sama dengan saya adalah Kak Nanda atau saya biasa memanggilnya Kak Nandut sebagai sapaan akrab. Kalian tahu, berkat dia lah saya pernah menginjakkan kaki di negerinya si Mario Maurer yang super ganteng itu loh. Thankies sistahkuuu. Dia ini super duper ribuan kali lebih keren dariku. She is a best president ever who teaches me how to a good leader eventhough I am failed L He teaches me everything, to inspire me to empower my self and other women. Dia itu gudangnya prestasi deh, sweetheart. Dia pernah  magang di beberapa contoh seperti IRO(International Relation Office) Unsoed sampai sekarang dia lagi magang di Kemenlu. Uuuh keren banget ya. Ada ratusan list prestasi yang nggak bakal cukup aku jabarin di sini. But the point is her determination, her willingness to develop herself, and empower her environment bring her to the brighter future. Love yaa Kak Nandut, my role model, inspiration and idol. Doakan aku bisa sepertimu yaa. :’)
The second girl who glitter and shine brightly on my eyes is Ria Ricis’ Twin. If you are FIB student. You will surely know her. Yups, this girl who looks a like Ria Ricis is kak Tya, the one I call as “cabe” sebagai panggilan kesayangan. But, she is special cabe of course. Bukan cabe-cabean di jalanan loh ya :p Jadi, dari pertama masuk kuliah dan kebetulan satu organisasi sama dia. Aku udah suka banget sama the way she speaks. Sounds like native banget gitu. Hehe saat itulah aku jadi ngefans dan bertekad untuk bisa ngomong selancar dan sekeren kak Tya. Dia juga udah banyak menginspirasi dari kepiawaian dia public speaking loh. Dia bener-bener contoh nyata dari sebuah “niat” untuk belajar bahasa inggris dengan benar dan ikhlas. Kemampuan public speakingnya jangan diragukan lagi deh pokoknya. TOP BEGETE hihi Love yaa too my role model, inspiration and idol.
Then, the other girl that I really cherish, adore and appreciate also shine bright like her name, Mentari. I call her bebeb sebagai panggilan sayang juga. Sebagai tanda I adore her so much hihi. Jadi, dia ini keren banget bahasa inggrisnya. Mahasiswi paling pinter se Sasing 2014 dengan IPK cumlaude dong pastinya. Nggak usah ditanya deh hehe She is really beautiful outside and inside. Dia dulunya PH di HMSI, guys. Pernah juga jadi Project Officer di Seminar Trilitra di kampus. Kalau lagi ngomong pake Bahasa inggris dan diskusi di kelas, aku suka melongo sendiri, saking kerennya hihi. Selalu mengingatkan dan menginsipirasi ya beb. Laff . yaaa.
Nah, role model berikutnya tidak terlalu dekat denganku. Tapi, mereka begitu baik sampai benar-benar mensupport aku untuk terus berkembang. I do respect both of these women. They are Kak Dwi Riati dan Kak Lia Agustina.
Kak Dwi Riati merupakan wisudawati dari Sastra Inggris yang lulus dengan cepat. Dia juga pernah menerbitkan sebuah novel yang keren. Selain itu, dia pernah menjadi editor untuk sebuah penerbit. Sekarang, dia sudah bekerja di Medan tepatnya di Kemenkemhum. Sesuatu yang membuat aku mengagumi dan menghormatinya adalah kebaikannya untuk membantuku mewujudkan mimpi menjadi seorang penulis. Walaupun kami tidak begitu dekat, tanpa pikir panjang, ketika dimintai bantuan, dia dengan senang hati menjawab iya. That’s the real example that senior will always support their junior. Semoga suatu hari nanti kita bisa makin dekat ya kak, Jangan berhenti untuk menginspirasi dan menyebarkan kebaikan. Love you, kak.
Then, finally we come to this wonderful girl. Back then, aku kenal kak Lia ketika dulu aku pernah satu ukm dengannya, pada saat itu, aku juga sudah mengagumi the way she speaks dan semua kebaikannya. Namun, karena suatu hal aku berhenti dari ukm itu dan tidak bisa menjadi dekat dengannya. Jadi, aku hanya bisa mendapatkan inspirasi dari jauh. Dia pernah pula  menjadi PH di HMSI. Dia juga jago debat loh :’) nggak kayak aku yang abal-abal huehue. Kemudian, dia juga sudah pernah mencicipi magang di Kemensetneg. Duh, elegan banget ya. Terus, aku juga mau berterimakasih banyak pake banget, berkat rekomendasi kak Lia, insya Allah objek skripsiku bisa fix walaupun banyak banget rintangannya. Terimakasih pula udah sabar jawabin pertanyaan Rahay soal skripsi atau magang ya. Hehe Thanks a lot kak. Love yaa. Stay inspiring yaa!
So, the conclusion is that mari kita belajar untuk memberikan masukan dengan santun dan membangun bukan dengan ‘nyinyiran’. Be aware, verbal or cyber bullying is real. Di sini kita perlu saling mengingatkan dan membangun bukan menjatuhkan dan mengolok-olok, belajar untuk tidak meremehkan orang lain, ukir prestasi bersama dan sebarkan virus inspirasi demi Indonesia yang lebih baik dan cemerlang J
Constellation of love,
Mahasiswi jurusan sastra yang sama sekali tidak bingung mau jadi apa dan bahagia kuliah di jurusan sastra. <3 <3 <3

PS: ALERT! TULISAN INI MEMANG MENGANDUNG UNSUR CURHAT, JADI YANG MAU KOMEN “LAH KOK MALAH CURHAT’ SEBAIKNYA DIUCAPKAN PADA ANGIN SAJA. TERIMAKASIH. INGAT! INI BLOG PRIBADI SAYA PULA, JADI SAYA BEBAS MENUANGKAN SEMUA GAGASAN ATAU PERASAAN SAYA DI SINI. JANGAN SALAH LAPAK! TERIMAKASIH ^^
#LETS SPREAD KINDNESS AND LOVE NOT NYINYIR NYINYIR CLUB


4 komentar:

  1. Gosh I love you and you always amaze and inspire me too!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lafff yaa back. Keep inspiring each other ya beb <3

      Hapus
  2. I'm super honored. Thank you Rahay hehe :)

    BalasHapus
  3. You are really welcome kak. Thanks for always inspiring <3

    BalasHapus